Ilustrasi otak. DOK Moroccoworldnews
Ilustrasi otak. DOK Moroccoworldnews

Begini Aktivitas Otak Jelang Kematian

Renatha Swasty • 31 Maret 2022 18:17
Jakarta: Sebuah penelitian dari University of Tartu Estonia oleh Raul Vicente dan tim merekam aktivitas otak manusia sesaat menjelang kematian. Raul menggunakan alat continuous electroencephalography (EEG) pada pasien berusia 87 tahun yang menderita epilepsi.
 
Spesialis neurologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Kurnia Kusumastuti mengungkap kondisi seseorang menjelang kematian. Kurnia menyebut sesorang akan melewati step-step penurunan kesadaran, sehingga saat sudah tidak sadar, pasien tidak akan bisa mengingat memori selama hidupnya yang baik atau buruk.
 
Dia menyebut penemuan tersebut dilakukan pada seorang pasien yang mati mendadak, di mana kesadarannya menurun drastis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Saat direkam menggunakan EEG, pasien yang menderita epilepsi terkena serangan jantung dan tidak ada darah yang mengalir ke otak. Sehingga tidak ada step-step jelang kematiannya,” kata Kurnia dikutip dari laman unair.ac.id, Kamis, 31 Maret 2022.
 
EEG adalah alat pendeteksi aktivitas gelombang listrik pada otak melalui graph atau gambar. Jadi, dengan EEG bisa melihat fungsi otak yang ditinjau dari kelistrikan, terdapat pola gelombang listrik normal.
 
"Jadi, jika ada penyimpangan gelombang, tandanya ada gangguan pada fungsi otak,” tutur Kurnia.
 
Jelang kematian, kata dia, gelombang frekuensi listrik pada otak akan melambat. Normalnya, gelombang otak sebanyak 9-10 gelombang per detik, sedangkan pada orang yang kesadarannya menurun menjelang kematian hanya 2-3 gelombang dalam 1 detik.
 
Aktivitas listrik pada otak normal diukur dalam satuan microvolt, yaitu 70-100 microvolt. Namun, jelang kematian amplitudo otak semakin rendah yaitu kurang dari 2 microvolt.
 
“Hasil pengamatan EEG otak manusia yang normal dengan yang terkena penyakit epilepsi menunjukkan pola gelombang yang sama, yaitu lebih dari 2 microvolt dan kurang dari 10 microvolt. Namun, terlihat perbedaan pola gelombang pada 1-2 jam menjelang kematian,” jelas Kurnia.
 
Hal tersebut dapat dilihat dari gambaran gelombang yang lambat, amplitudo yang terus menerus rendah, dan aktivitas ritmis berulang-ulang dalam periode waktu yang sama pada pengidap epilepsi. Sedangkan pada otak orang sehat akan meninggal dengan tidak adanya aktivitas ritmis dan amplitudo berangsur-angsur rendah.
 
Aktivitas otak manusia menjelang kematian juga dapat diketahui melalui pola napas dan ukuran pupil mata. “Pola napas dikendalikan oleh otak, pola tersebut dapat diketahui jelang kematian jika terjadi apnea, yaitu napas yang berhenti,” kata Kurnia.
 
Pola pupil mata dalam keadaan normal akan membesar saat diberi sinar, kemudian mengecil. Apabila pupil tidak mengecil artinya fungsi saraf otak sudah terganggu.
 
Baca: Mengenal Bagian Otak Hipotalamus: Pengertian dan Hormon yang Dihasilkan
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif