Kantor BRIN. Humas BRIN
Kantor BRIN. Humas BRIN

Pengelolaan Pengetahuan Bagi Kemajuan Riset dan Inovasi Sangat Penting

Pendidikan penelitian inovasi Riset dan Penelitian BRIN
Renatha Swasty • 02 Mei 2022 20:13
Jakarta: Kebutuhan memahami sifat pengetahuan dalam konteks kegiatan riset dan inovasi sangat dibutuhkan. Plt Direktur Pengembangan Kompetensi BRIN, Sudi Ariyanto, mengungkapkan pentingnya pengelolaan atau manajemen ilmu pengetahuan bagi BRIN, sebagai suatu lembaga riset.
 
Pengetahuan adalah elemen yang sangat penting bagi kesuksesan suatu organisasi. Dia menuturkan di BRIN ada banyak ilmu pengetahuan yang diteliti dan dikembangkan oleh aktivitas riset di BRIN, maupun di institusi yang baru bergabung ke BRIN.
 
"Kita harus menata dan mengkonsolidasikan hal tersebut dengan manajemen ilmu pengetahuan agar dapat memberikan sumbangsih yang maksimal,” tutur Sudi dikutip dari laman brin.go.id, Senin, 2 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, Spesialis Manajemen Pengetahuan International Atomic Energy Agency (IAEA), Ashok Ganesan, menjelaskan cara memunculkan dan mengembangkan program manajemen ilmu pengetahuan dan teknologi di BRIN. Dia menyabut ada empat hal yang menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam manajemen pengetahuan.
 
Yakni, data, informasi, ilmu pengetahuan, dan kebijaksanaan. Ilmu pengetahuan berasal dari data dan informasi.
 
"Data masih harus diolah untuk menjadi informasi, yang akhirnya pengetahuan merupakan pemahaman informasi melalui pendidikan, pengalaman, dan lain-lain,” jelas Ashok.
 
Ashok menyebut manajemen pengetahuan tidak dapat terlepas dari peran Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi. Ilmuwan yang berasal dari Jepang ini mengenalkan model SECI (Sosialisasi-Eksternalisasi-Kombinasi-Internalisasi).
 
Formulasi SECI menggambarkan proses berkelanjutan dari pengetahuan tacit dan eksplisit. Proses ini akan menghasilkan pengetahuan baru.
 
“SECI model yang populer ini adalah kunci teknik pengelolaan pengetahuan. Tahapan yang pertama dimulai dengan sosialisasi, transfer pengetahuan tacit ke tacit melalui interaksi sosial,” jelas Ashok.
 
Pengetahuan tacit merupakan pengetahuan yang belum didokumentasikan atau pengetahuan yang masih berada di dalam diri seseorang. Pengetahuan ini berisikan pandangan, pengalaman, pemikiran, atau pembelajaran yang diterima dari pengalaman sehari-hari.
 
“Tahapan berikutnya adalah eksternalisasi, transfer pengetahuan tacit menjadi eksplisit melalui dokumen. Selanjutnya adalah internalisasi pengetahuan eksplisit dan kombinasi,” imbuhnya.
 
Sementara itu, pakar sistem manajemen pengetahuan dari Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) Jann Hidajat Tjakraatmadja menyampaikan materi tentang manajemen pengetahuan 4.0 untuk riset dan inovasi, karena saat ini adalah era digital. Dia menyebut di Indonesia, inovasi belum didukung manjemen pengetahuan.
 
“Tantangan kita adalah bagaimana memadukan sumber daya alam dan kembangkan pengetahuan berbasis ekonomi. Sehingga kesejahteraan Indonesia meningkat seperti negara lain, jadi negara produsen bukan negara konsumen,” kata Guru Besar SBM ITB itu.
 
Dia menyebut ada kalanya muncul kegagalan dalam proyek inovasi. Permasalahan inovasi adalah permasalahan pengetahuan.
 
“Dulu periset tidak didukung dalam pengembangan manajemen pengetahuan. Kalau BRIN saat ini mendukung manajemen pengetahuan, itu sangat tepat karena mendukung proses inovasi,” tutur dia.
 
Jann berpendapat inovasi lahir karena pengayaan inovasi yang baru. Inovasi harus sesuai dengan sasaran organisasi.
 
“Mengutip pernyataan Kepala BRIN, bahwa budaya inovasi dapat memberikan solusi bagi umat dan memberikan ladang pahala bagi pelakunya,” kata Jann.
 
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Direktorat Pengembangan Kompetensi – Deputi Sumber Daya Manusia dan Iptek (SDMI) menjawab tantangan tersebut melalui Webinar Series: Knowledge Management for Research and Innovation.
 
“Kami sangat bangga BRIN telah mengkonsolidasikan sumber daya sains dan teknologi seperti periset, unit riset, fasilitas laboratorium, kapal riset, dan infrastruktur. Dengan banyaknya yang harus dikonsolidasikan, diperlukan manajemen yang baik untuk menjaga dan merawat, serta mengorganisasikan, agar BRIN terus menjadi lebih baik ke depannya,” kata Plt Deputi SDMI BRIN Edy Giri Rachman Putra.
 
Dia berharap akan tercipta kolaborasi dalam transfer knowledge atau transfer pengetahuan dari jumlah periset dan fasilitas riset. Serta aktivitas dan manajemen riset yang sangat besar jumlahnya.
 
“Sangat penting bagi kita untuk saling berbagi pengetahuan. Adanya transfer pengetahuan tacit dari yang personel berkompeten agar bisa menjadi eksplisit. Selain untuk meningkatkan SDM profesional khususnya SDM BRIN, juga dapat menyejahterakan masyarakat,” ujar dia.
 
Edy menyebut yang juga penting institusi dapat meningkatkan pemahaman. Hal itu agar kegiatan operasional berjalan baik dan efisien.
 
“Kita bisa belajar knowledge management atau manajemen pengetahuan dari pakar dari subjek nuklir atau lainnya yang dapat diaplikasikan,” tutur Edy.
 
Baca: Laksana Handoko: Seluruh Fasilitas Riset di BRIN untuk Kolaborasi Bersama
 
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif