Sekolah rusak di Aceh, ANT/Rahmad.
Sekolah rusak di Aceh, ANT/Rahmad.

Fasilitas Serba Tercukupi Tak Jamin Siswa Berprestasi

Pendidikan ujian nasional Prestasi Pelajar
Intan Yunelia • 08 Mei 2019 09:38
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menguji relasi tingkat sosial dan ekonomi siswa terhadap hasil Ujian Nasional (UN) 2019. Hasilnya, tingkat sosial dan ekonomi yang rendah bukan alasan siswa mendapat nilai tak maksimal dalam UN.
 
Berdasarkan hasil kajian Kemendikbud, terdapat 19 persen dari total responden angket UN yang capaian UN-nya tinggi merupakan siswa dari kalangan ekonomi dan sosial rendah, namun berdaya juang tinggi. Kemendikbud mengkategorikan siswa berdaya juang tinggi, jika siswa mampu menunjukkan capaian UN tinggi meskipun kondisi perekonomian keluarga lemah.
 
Pada angket UN 2019, siswa diminta menjawab latar belakang pendidikan ayah, ibu serta kuantitas kepemilikan barang di rumah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kalau kita telusuri lebih lanjut tentang plottingini, ada anak yang serba tidak beruntung toh nilainya tetap tinggi. Ini dalam PISA (Programme for International Student Assessment) sering disebut Resilience Students (siswa dengan daya juang),” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, Totok Suprayitno saat Konperensi Pers tentang Hasil Ujian Nasional Tahun 2018/2019 di Gedung A Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa 7 Mei 2019.
 
Baca:Milenial Pilih Jadi Youtuber Daripada Guru
 
Siswa kategori lemah, kata Totok, adalah siswa dengan pendidikan ayah atau ibu maksimal lulusan SMP, serta hanya memiliki empat jenis barang dengan kuantitas hanya satu buah per jenisnya. Sedangkan capaian UN tinggi adalah siswa dengan nilai UN lebih tinggi dari 55.
 
Meskipun diakui, daerah yang sosial ekonominya cenderung baik juga memiliki tingkat pendidikan yang baik. Namun, faktor itu bukan jaminan satu-satunya yang membuat siswa berprestasi.
 
Baca:Tak Tentukan Kelulusan, Siswa Cenderung Tak Optimal Kerjakan UN
 
Ia melanjukan, bahwa siswa yang memiliki ketahan malangan ini, di beberapa daerah justru mampu memiliki prestasi pendidikan yang tinggi. Hal tersebut menjadi suatu hal yang patut dicontoh kebanyakan siswa, terutama yang memiliki sosial ekonomi rendah.
 
“Seperti Vietnam berhasil lebih tinggi dari Jerman karena memiliki ketahan malangan ini. ini hal yang menarik, isu-isu seperti ini bisa kita gunakan untuk perbaiki proses belajar. Tidak hanya guru maupun fasilitas, tapi karakter siswa yang resilience harus bisa bertahan,” tutur Totok.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif