Kampus Diminta Buka Prodi Sesuai Kebutuhan Industri
Menristekdikti, Mohamad Nasir, Humas Kemenristekdikti.
Jakarta: Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengingatkan perguruan tinggi, agar tidak sembarang membuka program studi (prodi). Apalagi lulusan program studi itu tak sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja. 

Ia mengkhawatirkan, jika perguruan tinggi hanya akan menghasilkan lulusan yang menjadi pengangguran. "Sehingga nanti pun riset juga harus sesuai market. Jangan sampai riset dan inovasi berhenti di meja kampus, hanya karena tidak bisa digunakan oleh industri," ujar Nasir di Jakarta, Jumat, 2 November 2018.


Nasir berharap forum komunikasi organisasi profesi bisa menjadi jembatan antara perguruan tinggi dan kebutuhan industri.  Komunikasi penting dilakukan di antara keduanya, agar penyerapan tenaga kerja lebih optimal.

Perguruan tinggi selama ini terkesan berjalan sendiri-sendiri. Menyebabkan banyak lulusan tidak siap untuk terjun langsung ke dunia kerja, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan industri.

“Pendidikan berjalan sendiri tanpa melihat kebutuhan industri. Demikian pula industri bingung mencari tenaga kerja ke mana, karena banyak tidak sesuai kebutuhan,” kata Nasir.

Baca: Menristekdikti: Dosen Jangan Hanya Fokus Mengajar

Nasir juga menyinggung tentang keberadaan tenaga pengajar di pendidikan vokasi dan profesi.  Menurut Nasir tidak lagi cukup menggunakan dosen akademik untuk menghasilkan lulusan yang siap pakai. Disarankan juga merekrut tenaga pendidik dari kalangan profesional. 

Ia mencontohkan pendidikan vokasi elektronik yang selama ini diajarkan oleh dosen S2 lulusan program studi teknik elektro. Sementara dunia elektronik terus mengalami perkembangan.

“Sementara pelaku industri yang mau mengajar, terkendala karena lulusan S1. Mereka inilah yang akan kami akui dengan Rekognisi Pembelajaran Lampau,” papar Nasir



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id