Rektor Unimal, Herman Fithra. Medcom.id/Intan Yunelia.
Rektor Unimal, Herman Fithra. Medcom.id/Intan Yunelia.

Kebinekaan di Unimal Melebur dalam Sepakbola Kampus

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi Kerusuhan Manokwari
Intan Yunelia • 20 Agustus 2019 18:12
Jakarta: Perguruan tinggi merupakan potret Indonesia mini, di mana sivitas akademika yang berada di dalamnya berasal dari beragam suku, agama, bahasa, warna kulit, bahkan budaya dan kebiasaan dalam keseharian. Kesadaran tinggi akan keberagaman itulah yang dijunjung tinggi Universitas Malikussaleh (Unimal) dalam mengelola kerukunan antarwarga kampus.
 
Rektor Unimal, Herman Fithramengatakan, kampusnya sebisa mungkin membuat rasa nyaman bagi mahasiswa yang datang dari Sabang sampai Merauke. Rasa nasionalisme dan semangat persatuan selalu ditanamkan demi rasa cinta mereka kepada Indonesia.
 
“Kita selalu mendorong dan menciptakan suasana agar mereka bisa nyaman dan terasa mereka tidak asing di Aceh. Sikap-sikap rasis kita jauhkan dan kita selalu sampaikan kalau kita ini sama, sepanjang negara kita tetap Indonesia,” kataHerman Fithra saat dihubungi Medcom.id, Selasa 20 Agustus 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sepanjang sejarah Unimal berdiri sejak tahun 1969, Unimal termasuk salah satu perguruan tingi yang mampu mewujudkan suasana damai dan rukun di dalam kampus. Meski mahasiswanya berasal dari latar belakang yang beragam, namun tetap hidup rukun dan damai di dalam lingkungan kampus yang berlokasi di Reuleuet, Kabupaten Aceh Utara, Acehini.
 
Berbagai cara ditempuh Unimal untuk menjaga kerukunan ini, salah satunya mendorong semua mahasiswa mengikuti dan aktif di kegiatan-kegiatan nonakademik seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di bidang seni, olahraga dan keilmuan.
 
"Di dalam UKM itulah mahasiswa lebih mudah melebur, waktu mereka habis untuk hal-hal positif. Seperti mahasiswa kami dari Papua sangat aktif bersama teman-teman mahasiswa lainnya dalam sepakbola kampus," kata Herman.
 
Melalui UKM termasuk sepakbola, kata Herman, sangat ampuh sebagai media untuk memupuk rasa nasionalisme mahasiswa Unimal yang berbeda latar belakang ini. Herman mengakui, membina kerukunan di Unimal memang memiliki tantangan tersendiri.
 
Baca:BPIP: Pancasila Bukan Nilai yang Diturunkan Secara Biologis
 
Perbedaan budaya dan kebiasaan mahasiswa dari luar Aceh, terutama mahasiswa dari Indonesia timur di kampus yang bernuansa Islami butuh pendekatan khusus. Perlahan mereka diberikan pemahaman apa yang boleh dan tidak sesuai dengan norma-norma yang ditetapkan di bumi Serambi Makkah itu.
 
“Jadi waktu awal datang ke Unimal memang suasananya berbeda, apalagi secara sosial budaya di daerah asalnya jauh berbeda dengan di Aceh yang berlaku syariat Islam. Kami sosialisasikan sebaik mungkin, kita harapkan agar tidak ada sandungan bagi mereka,” ujar Herman.
 
Ketika disinggung tentang situasi terkini yang terjadi di Malang, dan Surabaya sehingga berakibat pada adanya unjuk rasa mengarah ke anarkis di Manokwari, Herman mengatakan bahwa mahasiswa Papua yang kuliah di Unimal tidak terprovokasi. "Tidak ada kendala, mereka nyaman-nyaman saja sekarang di asrama," kata Herman.
 
Herman mengaku melakukan pemantauan langsung kondisi mahasiswa asal Papua yang ada di kampusnya. "Tadi sempat saya ajak, karena ada kegiatan tapi tidak ada kaitannya dengan kerusuhan ya. Ada pameran kegiatan UKM kecil menengah. Kampus kita damai-damai saja," terangnya.
 
Sejauh ini pun, sekitar 20 anak Papua yang kuliah di Unimal sangat baik komunikasinya dengan sesama mahasiswa juga masyarakat sekitar kampus. "Tempat kami selalu mengedepankan NKRI, tidak lagi yang berkelompok berdasarkan etnis-etnis, laboratorium keberagaman yang kami bangun. Jadi insyaAllah semuanya berbaur," papar Herman.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif