Mahasiswa UNS saat memenangkan Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) di USU. Foto:  UNS/Dok/Humas
Mahasiswa UNS saat memenangkan Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) di USU. Foto: UNS/Dok/Humas

Mahasiswa UNS 'Sulap' Limbah Aren jadi Bahan Bakar Alternatif

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Muhammad Syahrul Ramadhan • 18 September 2019 19:08
Jakarta: Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang mewakili dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) Forestime: Inovasi Pemuda dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045 berhasil menyabet juara dua. Kompetisi tersebut digelardi Universitas Sumatera Utara (USU) pada 12-15 September 2019 lalu.
 
Mereka adalah Windi Mulyani dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Ekonomi dan Mohamad Abror dari Prodi Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS. Keduanya berhasil menjadi juara 2 setelah menggagas pemanfaatan limbah aren sebagai bahan bakar alternatif dalam karya tulisnya yang berjudul Rekayasa Pemanfaatan Limbah Aren Sebagai Refuse Derived Fuel (RDF) Variasi Komposisi Polyvinyl Cloride (PVC) untuk Menciptakan Energi Terbarukan.
 
Saat ditanya mengenai alasannya memilih limbah aren, Windi menjawab bahwa sentra industri pati aren yang terdapat di Dusun Bendo, Kabupaten Klaten menghasilkan limbah aren yang sangat banyak. Karena itu, Windi bersama Abror mencari cara agar limbah aren yang berasal dari sentra industri pati aren tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik dan tidak mencemari lingkungan warga sekitar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Dusun Bendo, Klaten merupakan sentra industri pati aren, terdapat 174 sentra industri yang beroperasi. Namun, adanya industri tersebut juga menghasilkan limbah yang setiap harinya dapat mencapai 600-700 kg/25 m3 per hari dan bisa mencapai 50 ton secara keseluruhan,” ujar Windi, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu, 18 September 2019.
 
Mahasiswi FKIP UNS ini menambahkan, dalam pengolahan limbah aren sebagai bahan bakar alternatif juga menambahkan campuran plastik ke dalam RDF atau refuse derived fuel. Campuran plastik tersebut turut dimasukkan agar nilai kalor dalam RDF dapat meningkat.
 
“Kami sebagai mahasiswa berinisiatif untuk memanfaatkan limbah tersebut. Tidak hanya itu, kami juga prihatin dengan maraknya sampah plastik di lingkungan kita, sehingga kami mencoba memanfaatkan campuran plastik ke dalam RDF limbah aren guna meningkatkan nilai kalor RDF yang kami buat,” papar Windi.
 
Dengan adanya penemuan ini, Windi bersama Abror berencana memasukkan rencana pengembangan RDF ini ke dalam proposal Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) agar bisa mendapatkan pendanaan yang lebih banyak.
 
“Sampai saat ini RDF hanya bisa digunakan melalui reaktor. Tapi ke depannya kami tetap berusaha mencari solusi agar produk gas dari RDF bisa disimpan ke dalam tabung layaknya gas LPG yang digunakan masyarakat. Insya Allah kami juga sedang mengikuti PKM dengan harapan mendapatkan dana untuk itu,” harapnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif