Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Wahyu Wilopo, menjelaskan fenomena ini terjadi akibat kombinasi faktor geologi seperti pelarutan batu gamping, erosi material lapuk, dan curah hujan tinggi. Terlebih, siklon Senyar di akhir November 2025 memicu curah hujan melimpah.
“Kita ketahui bersama di daerah Sumatra Barat terdiri dari beberapa satuan batuan salah satunya gamping dan adanya siklon Senyar yang bisa memicu terjadinya sinkhole. Pencegahan total sulit dilakukan, tetapi mitigasi dapat melalui pemantauan geologi, pengendalian tata guna lahan, serta sistem drainase yang baik,” ujar Wahyu dikutip dari laman ugm.ac.id, Jumat, 9 Januari 2025.
Wahyu menyebutkan fenomena ini tidak bisa muncul di semua jenis tanah. Melainkan lebih sering terjadi di wilayah geologi tertentu seperti karst (batu gamping/kapur), tanah berongga, atau wilayah dengan aktivitas manusia yang mempercepat pelarutan dan erosi.
Ia menyebutkan di kawasan karst, air hujan bisa melarutkan batuan yang membentuk rongga bawah tanah. Sedangkan di tanah berongga, dapat diakibatkan oleh gua alami maupun kegiatan tambang.
Wahyu mengatakan wilayah dengan material vulkanik lapuk mengakibatkan mudah erosi hingga rentan ambles. “Ada pula yang terjadi ini dapat karena daerah eksploitasi air tanah berlebihan sehingga menurunkan muka air tanah, memperbesar rongga, dan melemahnya struktur tanah hingga sinkhole,” papar dia.
Dia mengatakan lubang misterius ini dapat mengubah topografi yang awalnya kawasan pertanian berdampak pada rusaknya ekosistem flora fauna sekitar. Fenomena ini juga berpeluang membuat limbah maupun material berbahaya masuk dan mencemari air melalui sungai bawah tanah. Rongga yang terbentuk memperbesar juga berisiko adanya amblesan lanjutan di sekitar lokasi.
Wahyu menyebut karakter sinkhole yang dapat muncul tanpa peringatan mengancam keselamatan jiwa. Selain itu, rusaknya infrastruktur turut mengganggu aktivitas dan siklus ekonomi lokal.
“Ini juga memunculkan rasa cemas dan trauma bagi masyarakat yang terdampak,” ungkap dia.
Dia menuturkan penanganan sinkhole bukan hanya soal menutup lubang, tetapi juga mengelola air, memperkuat tanah, dan melibatkan masyarakat dalam kewaspadaan. Setelah proses evakuasi warga, survei geologi dan geofisika dilakukan untuk identifikasi kedalaman lubang baik dengan geolistrik, seismik, ground penetrating radar (GPR).
Stabilisasi tanah dapat dilakukan dengan pengisian material padat maupun teknik grouting (penyuntikan semen cair ke dalam rongga). Langkah lain menurutnya ialah perbaikan drainase dan aliran air, serta rekayasa struktur penguatan pondasi.
Fenomena alam ini menurut Wahyu memang sulit dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan. Ia menyebutkan tanda-tanda awal seperti permukaan tanah retak dan turun perlahan, bangunan atau pohon miring bergeser, perubahan aliran air, hingga munculnya lubang kecil.
Ia mengimbau kepada masyarakat kawasan karst yang rawan, serta peran segala lini dalam mengatasi fenomena ini. “Pemerintah perlu melakukan survei geologi pemetaan rawan sinkhole, masyarakat juga perlu aktif melaporkan kecurigaan sesuai tanda-tanda seperti yang disebutkan tadi. Jadi, edukasi bersama penting untuk warga memahami risiko dan mitigasi,” ujar Wahyu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News