Dalam pertemuan tersebut, Rektor UI yang didampingi oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Mahasisw dan Alumni Prof. Hamdi Muluk, Dekan FTUI Prof. Kemas Ridwan, dan Direktur DIRBT UI Chairul Hudaya, Ph.D menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi SDA yang sangat besar. Kekayaan tersebut, menurutnya, perlu diikuti dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, serta kemampuan riset dan inovasi agar dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi pembangunan nasional.
Potensi SDA Indonesia juga menjadi salah satu fondasi penting dalam hubungan ekonomi Indonesia - Tiongkok. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam strategis yang saling melengkapi dengan kekuatan Tiongkok di bidang manufaktur maju dan inovasi. Kedua negara juga telah menyepakati penguatan kerja sama di bidang mineral, energi, kendaraan listrik, baterai lithium, serta pengembangan teknologi hijau.
“Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Namun, kekayaan sumber daya alam tersebut harus berjalan seiring dengan pembangunan sumber daya manusia yang unggul agar Indonesia mampu menciptakan nilai tambah dan menjadi bagian penting dalam rantai industri global.”
Rektor UI juga menekankan adanya kesepahaman antara Indonesia dan Tiongkok mengenai pentingnya pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian dari kerja sama jangka panjang kedua negara.
Arah tersebut sejalan dengan perkembangan hubungan bilateral Indonesia–Tiongkok yang semakin menempatkan pendidikan, riset, teknologi, dan pengembangan talenta sebagai bagian penting dari kerja sama strategis kedua negara.
Pada 2025, kedua negara menyepakati penguatan kerja sama di berbagai sektor, termasuk mineral dan mineral hijau. Dalam Joint Statement, Indonesia dan Tiongkok juga menegaskan pentingnya pengembangan rantai nilai dan rantai talenta (talent chains), serta kerja sama di bidang kendaraan energi baru, baterai lithium, energi bersih, dan infrastruktur energi.
Arah tersebut semakin diperkuat pada 2026. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI menyatakan bahwa kolaborasi Indonesia - Tiongkok di bidang pendidikan tinggi, sains, teknologi, dan pengembangan talenta merupakan bagian penting dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia serta mendukung kebutuhan industri.
Rektor UI, Heri Hermansyah. Foto: UI
UI Ingin Mengambil Peran
Dalam konteks tersebut, UI melihat peluang untuk mengambil peran lebih besar sebagai jembatan antara Indonesia, Tiongkok, perguruan tinggi, dan dunia industri.Menurut Rektor UI, kerja sama tidak cukup berhenti pada pertukaran akademik atau penandatanganan dokumen kerja sama. Kolaborasi perlu diterjemahkan menjadi program konkret yang menghasilkan talenta, riset, teknologi, inovasi, serta solusi bagi kebutuhan industri dan pembangunan Indonesia.
“Inilah yang ingin diambil oleh Universitas Indonesia: mengambil peran dalam membangun ekosistem kolaborasi yang menghubungkan pendidikan, penelitian, industri, dan pemerintah untuk menyiapkan SDM yang dibutuhkan Indonesia di masa depan.”
Bagi UI, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi SDA perlu berjalan beriringan dengan hilirisasi pengetahuan dan talenta.
Kerja sama UI dengan Huayou dan Northeastern University dapat diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan lulusan, tetapi juga memperkuat riset bersama, pengembangan teknologi, industry-based education, pertukaran akademisi dan mahasiswa, serta pengembangan inovasi yang dapat diterapkan langsung pada industri.
Hal ini juga sejalan dengan pengalaman kerja sama UI dengan berbagai institusi di Tiongkok. Pada 2025, UI memperkuat jejaring akademik dengan sejumlah universitas terkemuka di Tiongkok sekaligus membangun komunikasi dengan Huayou dalam konteks pengembangan riset dan hilirisasi mineral.