SMK Didorong Cetak Wirausahawan Cegah Lulusan Menganggur
Mendikbud, Muhadjir Effendy, Kemendikbud/BKLM.
Jakarta:   Pertumbuhan minat kewirausahaan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) meningkat. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menambah target siswa dan sekolah yang mendapatkan dukungan program SMK Pencetak Wirausaha.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy berharap agar kegiatan "SMK Pencetak Wirausaha" yang dilaksanakan Direktorat Pembinaan SMK, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) dapat diperkuat dan dikembangkan lagi untuk mendukung tingginya minat kewirausahaan tersebut.


"Pembelajaran kewirausahaan itu bukan sekadar mengajari teori-teori saja. Tetapi harus dicoba, dilakukan, dipraktikkan. Yang penting itu menciptakan iklim yang mendukung tumbuhnya jiwa kewirausahaan," kata Muhadjir pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Pembelajaran Kewirausahaan, di Jakarta, Jumat, 23 November 2018.

Menurut Muhadjir, modal utama seorang wirausahawan adalah keberanian mengambil risiko, cermat melihat dan menangkap peluang, serta kemampuan menghadirkan sesuatu yang berbeda. "Kalau berhasil, tidak mudah puas. Dan kalau gagal, tidak kapok," ujarnya. 

Baca: Lulusan SMK Paling Banyak Menganggur

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen), Hamid Muhammad menyampaikan, tahun depan target siswa dan sekolah yang mendapatkan dukungan program SMK Pencetak Wirausaha akan ditambah. "Jika tahun ini sekitar dua ribu SMK, tahun depan diharapkan dapat meningkat dua kali lipat," kata Hamid.

Sekolah ditantang mengirimkan proposal dukungan, bukan lagi ditunjuk oleh pusat. "Kriteria utamanya adalah orisinal, unik, dan usefulnessatau kegunaan," ujarnya. 

Hamid mengungkapkan, program ini juga merupakan salah satu upaya Kemendikbud menjawab kritik dan pandangan negatif mengenai lulusan SMK yang menjadi pengangguran. Pengembangan minat kewirausahaan untuk siswa SMK ini melatih siswa membuka atau menciptakan lapangan pekerjaan. 

"Kita ingin menjawab, bahwa SMK ini bukan menciptakan pengangguran, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan," kata Hamid. 

Menurut Hamid, kesesuaian antara bidang keahlian yang dipelajari di sekolah dengan usaha yang dijalankan tidak menjadi persoalan. "Ukurannya itu omzet. Pokoknya omzetnya sudah bisa lima juta ke atas. Kita apresiasi. Ini kan baru tahap awal, kita tetapkan lima juta. Tapi sudah ada yang omzetnya mencapai lima puluh sampai seratusan juta. Itu 'kan luar biasa untuk seusia mereka," katanya. 

Pengembangan pembelajaran kewirausahaan di dalam kurikulum SMK telah diakomodir ke dalam mata pelajaran kompetensi keahlian dan penambahan jam pelajaran yang signifikan. Program “Sekolah Pencetak Wirausaha” merupakan kerja sama Direktorat Pembinaan SMK dengan The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO). 




(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id