Pertemuan antara Mendikbud, Nadiem Makarim dengan organisasi guru.  Foto: Dok. IGI
Pertemuan antara Mendikbud, Nadiem Makarim dengan organisasi guru. Foto: Dok. IGI

IGI Usulkan Nadiem Tata Ulang Postur Kurikulum

Pendidikan Kabinet Jokowi-Maruf
Intan Yunelia • 04 November 2019 18:59
Jakarta: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim terus melanjutkan maraton audiensi dan diskusi dengan sejumlah pemangku kepentingan di dunia pendidikan. Kali ini adalah giliran para pegiat pendidikan, terutama organisasi dan komunitas guru.
 
Pertemuan antara Nadiem dan 22 organisasi guru dan komunitas tersebut digelardi Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin, 4 November 2019. Kepada perwakilan organsasi guru, Nadiem meminta masukan dan solusi tentang permasalahan guru di Tanah Air.
 
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim mengatakan, bahwa IGI merupakan salah satu organisasi guru yang diundang mantan Bos Gojek tersebut. Dalam pertemuan tersebut, IGI yang diwakili langsung oleh Ramli menyampaikan sejumlah hal penting yang perlu dilakukan dalam pembenahan sistem pendidikan di Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ada 10 usulan Revolusi Pendidikan yang disampaikan IGI dalam pertemuan tersebut. Salah satu poin penting yang disampaikan Ramli adalah terkait penataan ulang postur kurikulum SD hingga SMA sederajat.
 
Di tingkat Sekolah Dasar, misalnya, IGI mengusulkan untuk mengubah postur mata pelajaran utama. Di antaranya menjadikan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan Pendidikan Karakter berbasis agama dan Pancasila ke dalam mata pelajaran utama.
 
“Dengan begitu, pembelajaran Bahasa Inggris di SMP dan SMA dihapuskan, karena seharusnya sudah dituntaskan di SD. Pembelajaran bahasa Inggris fokus ke percakapan, bukan tata bahasa,” kata Ramli di siaran pers, Senin, 4 November 2019.
 
Tak hanya itu, jumlah mata pelajaran di SMP juga, kata Ramli, baiknya dibatasi maksimal lima mata pelajaran. Dengan basis utama yang ditekankan adalah pada Coding. Sementara itu, tingkat SMA juga dimaksimalkan enam mata pelajaran.
 
“Enam mata pelajaran (di SMA) tanpa penjurusan lagi, mereka yang ingin fokus pada keahlian tertentu dipersilakan memilih SMK,” ujarnya.
 
SMK, menurut Ramli, harus fokus pada keahlian. Karena itu, kemudian SMK harus menggunakan sistem Satuan Kredit Semester (SKS).
 
Mereka yang lebih cepat dapat menuntaskan SMK bisa dalam jangka dua tahun atau kurang. Sebaliknya, mereka yang lambat bisa saja sampai empat tahun.
 
Ujian kelulusan SMK pada keahliannya bukan hanya pada pelajaran normatif dan adaptif. “SMK tidak boleh kalah dari BLK (Balai Latihan Kerja) yang hanya 3, 6 atau 12 bulan saja. LPTK (Lembaga Pendidikan tenaga Kependidikan) diwajibkan menyediakan Sarjana Pendidikan atau Alumni PPG (Pendidikan Profesi Guru) yang dibutuhkan SMK,” tuturnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif