Guru sedang mengajarkan siswa di muka kelas, MI/Gino Hadi.
Guru sedang mengajarkan siswa di muka kelas, MI/Gino Hadi.

IGI: Dunia Pendidikan Nasional Rentan Lumpuh Total

Pendidikan guru CPNS
Muhammad Syahrul Ramadhan • 18 November 2019 15:29
Jakarta: Ruang kelas di sekolah-sekolah di Indonesia didominasi kehadiran guru-guru honorer yang digaji secara tidak layak. Kondisi ini tak hanya memprihatinkan, namun juga rentan bagi pendidikan nasional.
 
Untuk diketahui, guru-guru terbaik banyak yang tidak lagi bersentuhan langsung dengan siswa di kelas, karena tidak lagi memiliki kewajiban untuk mengajar. Guru-guru terbaik tersebut banyak menduduki jabatan administratif dan manajerial, seperti kepala sekolah, pengawas sekolah, kepala seksi (kasie), kepala bidang (kabid).
 
Bahkan kini banyak guru yang menjadi kepala desa hingga camat. Ditambah lagi usia para guru yang menjadi kepsek dan pengawas ini pun sudah memasuki usia jelang pensiun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan data Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) November 2018, jumlah guru PNS berusia 51-55 tahun sebanyak 388.512. Sedangkan guru PNS di atas 55 tahun sebanyak 286.934 guru.
 
"Guru terbaik akan diangkat jadi kepala sekolah. Kepala sekolah terbaik akan diangkat jadi pengawas sekolah, kasie, kabid. Maka yang tertinggal bukan lagi guru-guru terbaik di ruang-ruang kelas kita," kata Ketua Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim dalam siaran persnya di Jakarta, Senin, 18 November 2019.
 
Akibatnya, kata Ramli, ruang kelas di sekolah-sekolah di Indonesia terpaksa banyak diisi oleh guru-guru honorer yang digaji secara tidak layak. "Guru honorer yang terhinakan oleh pemerintah dengan pendapatan Rp100 ribu per bulan itu ikut mendominasi ruang-ruang kelas, terangnya.
 
Kondisi tersebut membuat pendidikan nasional sangat rentang mengalami lumpuh total. "Bayangkan jika guru-guru muda yang mayoritas honorer itu mogok massal, bisa dipastikan pendidikan kita lumpuh total," terangnya.
 
Ramli mempertanyakan, harapan bagi pendidikan anak-anak di masa mendatang jika kondisi yang dihadapi bangsa ini masih seperti itu. Padahal seperti diketahui, berbagai indikator kualitas pendidikan Indonesia menunjukkan angka-angka yang memprihatinkan.
 
"Kemampuan matematika kita sangat rendah, budata literasi yang jongkok ditambah dengan kemampuan sains yang tidak memadai," sebut Ramli.
 
Namun sayangnya, kata Ramli, kondisi pendidikan nasional belum juga mendapat perhatian serius pemerintah. Salah satunya ditunjukkan ketika Rapat Terbatas (ratas) Program Pendidikan dan Beasiswa di Kantor Presiden. "Dalam ratas, guru tampaknya tak mendapat perhatian presiden," terangnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif