Direktur Jendral Pendidikan Vokasi, Kemendikbud, Wikan Sakarinto. Foto: Zoom
Direktur Jendral Pendidikan Vokasi, Kemendikbud, Wikan Sakarinto. Foto: Zoom

Kurang Tahan Banting, Lulusan Vokasi Banyak Dikomplain Perusahaan

Pendidikan Pendidikan Tinggi Pendidikan Vokasi Perguruan Tinggi UGM
Citra Larasati • 28 Oktober 2020 12:05
Jakarta: Direktur Jendral Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Wikan Sakarinto menegaskan, meskipun banyak terserap lapangan kerja, tetapi fakta nasional menunjukkan lulusan vokasi secara umum banyak mendapat komplain dari perusahaan-perusahaan. Mereka dinilai masih kurang tahan menghadapi tekanan dalam dunia kerja.
 
Selain itu, mereka juga dinilai kurang dapat bekerja sama dan kurang dapat berkomunikasi dengan baik secara lisan ataupun tulisan. Tidak sedikit dari lulusan vokasi secara nasional kurang dalam hal inisiatif.
 
“Jadi, kalau tidak disuruh tidak jalan dan mudah bosan. Itulah komplain yang datang dari dunia industri. Karenanya jika soft skills kuat, kita yakin ia akan belajar secara mandiri. Perlu sentuh karakter terdalam dari mahasiswa vokasi sebagai value maka dengan sendirinya akan menumbuhkan soft skills dan pada akhirnya juga pada hard skills-nya," kata Wikan, saat menjadi pembicara pada puncak Dies ke 11 Sekolah Vokasi UGM, Selasa, 27 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, selengkap apapun gedung dan fasilitas yang dimiliki kampus vokasi, sementara kurikulum tidak bisa menjamin soft skills menguat maka semua akan percuma. Oleh karena itu, 80 persen tenaga pengajar Sekolah Vokasi saat ini harus mengubah mindset.
 
Baca juga:Kisah Sukses Pelajar SMK Pebisnis Warung Angkringan
 
Wikan dalam siaran persnya menyebut, soft skills menjadi sangat penting, apalagi di era pandemi covid-19 saat ini. Akibat pandemi covid-19 banyak perusahaan tidak bisa menyerap lulusan maka kewirausahaan menjadi jawaban.
 
“Berbicara kewirausahaan maka sebetulnya berbicara soft skills yang paling relevan yaitu kemampuan berkomunikasi, presentasi, kemampuan menerima perbedaan, kemampuan dalam team work, kemampuan berbahasa asing dan lain-lain dan yang terpenting juga soal kejujuran dan integritas," terangnya.
 
Soal soft skills ini, kata Wikan, menjadi kebijakan utama pendidikan vokasi di Indonesia. Penekanan pada soft skills ini, disebutnya, akan menjadi warna Permendikbud Sekolah Vokasi mendatang terkait merdeka belajar.
 
“Untuk lulusan Sekolah Vokasi UGM, dengan tracer study hampir 90 persen sangat valid. Lulusan Sekolah Vokasi idealnya tidak hanya hard skills, tapi juga soft skills, bahkan penguasaan soft skills ini jauh lebih penting," ucapnya.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif