Guru Meminta Ada SOP Penanganan Tindak Kekerasan
Ilustrasi - Medcom.id
Jakarta: Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendesak pemerintah membentuk standar operasional prosedur (SOP) dalam menangani tindak kekerasan di dunia pendidikan. Tuntutan itu untuk mencegah tindak kekerasan yang berakibat fatal di sekolah.

"SOP yang dimaksud di sini adalah apabila di satuan pendidik  terjadi tindak kekerasan, maka dengan segera harus dilarikan ke dokter ataupun rumah sakit terdekat untuk segera ditindak secara medis," kata Sekjen FSGI Heru Purnomo kepada Medcom.id, Jakarta, akhir pekan lalu.


Heru berkaca pada kasus kekerasan yang menimpa Ahmad Budi Cahyanto, guru kesenian SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Budi tewas usai dipukul muridnya yang tidak terima ditegur saat jam pelajaran kesenian berlangsung.

Kasus ini juga menggerakkan Heru untuk mendesak pemerintah menegakkan perlindungan terhadap guru. Sebab, pada Pasal 40 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing. 

"Peraturan Pemerintah tersebut harusnya menjadi dasar kuat untuk dibentuknya SOP jika terjadi tindak kekerasan dalam dunia pendidikan," tegas Heru.

Dia juga yakin SOP tersebut bisa menjadi antisipasi jika kekerasan terjadi dalam dunia pendidikan. Terlebih, pendidikan menuntut interaksi yang tinggi antara tenaga pendidik dan peserta didik yang tidak hanya menguras tenaga fisik, tetapi juga menguras tenaga secara emosional.

Bila peserta didik yang secara emosional masih tidak stabil dan guru punya batas kesabaran, maka potensi konflik dan kekerasan antarkeduanya rentan terjadi.

"Jika SOP dibentuk, maka jika terjadi tindak kekerasan--baik antarsiswa, guru dan siswa, bahkan guru dan orang tua siswa--maka akan dapat ditangani. Dengan begitu diharapkan kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan tidak akan berakhir fatal," tutup Heru.



(HUS)