Bertajuk Oligarchy and the End of Reformasi in Indonesia: Power Reorganised, forum yang diadakan di Kampus Semanggi ini membedah nasib demokrasi kita yang dinilai makin dikangkangi oleh kaum oligarki setelah lebih dari dua dekade era Reformasi berjalan.
Direktur Eksekutif IPP Unika Atma Jaya, Salvatore Simarmata, Ph.D., menjelaskan jika acara ini dibuat sengaja biar publik, terutama generasi muda, tidak buta politik dan paham realitas sosial yang lagi terjadi di sekitar mereka.
"Forum ini kami selenggarakan untuk melihat lebih jelas berbagai perkembangan yang terjadi sehingga kita dapat memahami persoalan-persoalan publik dengan lebih baik," ujarnya.
Apresiasi serupa juga datang dari Ketua Departemen Sosiologi UI, Prof. Dr. Indera Ratna Irawati Pattinasarany. Menurutnya, kolaborasi akademik seperti ini penting banget buat jadi ruang diskusi yang sehat buat semua kalangan.
"Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan ruang diskusi akademik yang bermanfaat bagi berbagai kalangan," tuturnya.
Membedah Ulang Kekuasaan Dua Dekade Terakhir
Tidak main-main, diskusi ini langsung mendatangkan para begawan pencetus teori oligarki Indonesia, yaitu Prof. Vedi R. Hadiz (University of Melbourne) dan Dr. Richard Robison (Murdoch University), ditemani oleh Guru Besar Sosiologi UI, Prof. Francisia Seda.Vedi memaparkan jika buku terbaru mereka merupakan update besar-besaran dari analisis tahun 2004 silam, yang merekam bagaimana peta kekuasaan di Indonesia terus berubah dan berkonsolidasi setelah orde baru tumbang.
"Buku ini merupakan upaya untuk memperbarui analisis mengenai perubahan politik Indonesia dan berbagai dinamika yang berkembang setelah Reformasi," jelas Vedi.
Di sisi lain, Richard Robison mengajak peserta diskusi, yang didominasi mahasiswa untuk memutar ingatan ke tahun 1998. Di satu sisi, Indonesia memang sukses melakukan perubahan besar mulai dari amandemen konstitusi sampai sistem otonomi daerah.
"Perubahan besar memang telah terjadi, dan sebagian capaian Reformasi tetap menjadi bagian penting dari kehidupan demokrasi Indonesia hingga saat ini," ungkap Richard.
Tantangan Demokrasi Kontemporer
Namun, Francisia Seda mengingatkan kalau kita gak boleh menutup mata pada fakta baru dalam 20 tahun terakhir. Relasi antara penguasa, pemilik modal, dan institusi negara makin lengket, sehingga butuh cara pandang yang lebih luas buat mengkritisi hal ini."Perkembangan politik Indonesia perlu dipahami dalam perspektif yang lebih panjang dan komprehensif agar kita dapat melihat berbagai perubahan yang terjadi secara lebih utuh," tegasnya.
Lewat obrolan berbobot di Forum Semanggi #4 ini, IPP Unika Atma Jaya dan UI berharap bisa terus memicu critical thinking di kalangan mahasiswa dan publik, biar jatah bersuara dan partisipasi anak muda dalam menjaga demokrasi kita gak mati ditelan kepentingan segelintir elite.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News