Mendikbudristek, Nadiem Makarim saat memoderatori dialog dengan para guru. Foto:  BKHM
Mendikbudristek, Nadiem Makarim saat memoderatori dialog dengan para guru. Foto: BKHM

Hari Guru Nasional 2022

Nadiem Jadi Moderator, Pimpin Dialog Guru dan Maudy Ayunda

Citra Larasati • 26 November 2022 15:27
Jakarta:  Pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2022 Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim berbincang dengan para guru inspiratif dari berbagai wilayah dan Maudy Ayunda.  Dalam kesempatan itu, Nadiem yang langsung memoderatori perbincangan tersebut.
 
Nadiem menggali praktik baik yang mereka lakukan dalam menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan di sekolah sesuai potensi peserta didik.  Suasana belajar yang menyenangkan kembali ditekankan Nadiem sebagai faktor penting untuk menghadirkan pembelajaran yang efektif dan berdampak.
 
Menurut Nadiem, jika seorang anak mengasumsikan pembelajaran sebagai sesuatu yang membosankan, menyebalkan bahkan menyakitkan maka anak akan mengasosiasikan belajar dengan hal yang negatif. Untuk itu, penting untuk memahami potensi setiap peserta didik. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Untuk menjadikan anak sebagai pembelajar sepanjang hayat maka pembelajarannya harus menyenangkan. Dengan demikian, yang lebih penting adalah kemampuan untuk mencintai belajar bukan sekadar menghafal pelajaran,” ujar Nadiem dalam sesi dialog Puncak Peringatan HGN 2022, di JI Expo kemayoran, Jakarta, Sabtu, 26 November 2022.
 
Guru pertama yang diberi kesempatan untuk bercerita adalah I Ketut Budiarsa, Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 09 Padangsambian, Bali. Ia memilih melakukan pendekatan yang humanis sebagai strategi awal untuk merangkul dukungan para guru mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.
 
“Saya lakukan pendekatan dan pendampingan dengan meyakinkan para guru senior khususnya untuk bersama-sama belajar. Saya tekankan, saya tidak akan meninggalkan mereka bahkan akan bersama mereka menghadapi tantangan yang ada,” kisahnya. 
 
Sementara itu, kepada guru yang lebih muda, Budi mendorong mereka untuk lebih bersemangat belajar. “Kita bentuk komunitas belajar, kita manfaatkan Platform Merdeka Mengajar (PMM). Kami bersama merancang pembelajaran yang berpihak pada anak-anak,” urainya. 
 
Berikutnya, Dolvina Lea Ansanay, Guru Penggerak Angkatan I yang berasal dari SMA Gabungan Jayapura menceritakan bagaimana dia menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. “Saya merasa model pembelajaran ini sangat menarik karena melihat bakat dan potensi peserta didik sehingga meski kondisi kita terbatas namun dengan pembelajaran berdiferensiasi maka kita bisa kreatif mencari celah potensi sumber daya belajar dari apa yang kita punya di kelas,” jelasnya. 
 
Dalam aktivitas pembelajaran, Dolvina memacu anak-anak untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. “Ketika saya coba, ternyata mereka punya kemampuan dan kompetensi yang tidak saya sadari. Saya bagi kelompok agar mereka bisa unjuk kebolehannya berdasarkan minat mereka masing-masing,” katanya. 
 
Kemudian, Lili Gusni yang merupakan guru ASN PPPK yang mengajar di UPT SDN 28 Indrapura Batu Bara, Sumatra Utara sangat bersyukur karena setelah bertahun-tahun mengabdi pencapaiannya kini setelah berstatus ASN PPPK memacunya untuk berkarya lebih baik lagi. “Saya terus memacu diri meski sebelumnya saya berstatus honorer, saya terus mencari peluang untuk mengembangkan diri,” ungkap wanita yang juga tergabung dalam komunitas Ibu Penggerak. 
 
Eka Widiastuti, Guru Penggerak SMPN 1 Sungkai Selatan Lampung Utara mengungkapkan tantangan yang ia hadapi pascapandemi di mana peseta didik berkurang minat belajarnya. Menyikapi agar kegemaran siswanya bermain gim, Eka tergerak untuk menciptakan materi ajar melalui gim.
 
Namun, ia kembali dihadapkan pada terbatasanya kuota internet yang dimiliki siswa karena latar belakang ekonominya yang menengah ke bawah.  “Akhirnya saya membuat aplikasi yang bisa diakses siswa melalui HP android tanpa memakan kuota internet. Selain itu, saya juga membuat penilaian bersama dengan siswa dengan membuat inovasi pembelajaran 'Petak Umpet Soal'. Ketika saya desain seperti itu anak-anak berlomba-lomba mencari soal di berbagai tempat dan menjawab soal dengan semangat,” ujarnya.
 
Dalam kesempatan yang sama, Maudy Ayunda mengaku sangat terkesan dengan cara guru-guru peserta dialog dalam mengajar. Ia melihat bahwa kini secara langsung guru-guru aktif melibatkan anak-anak dalam proses belajar mereka sendiri.
 
“Itu adalah metode yang efektif,” ungkapnya. 
 
Maudy menceritakan pengalaman masa sekolahnya, ketika ia diberikan kebebasan oleh guru untuk mengekspresikan pembelajaran dengan cara yang sesuai dengan minatnya, maka ada rasa kepemilikan yang tumbuh dalam proses belajar itu. Dengan begitu, pada saat nilainya bagus, ada kepuasan yang rasanya berbeda sekali. 
 
“Belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan dan peran guru ke depan harus dikembangkan agar para guru bisa menumbuhkan benih motivasi belajar bagi murid,” harap Maudy Ayunda. 
Baca juga: HGN 2022: Nadiem Ajak Guru Samakan Arah Perjalanan


 
(CEU)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif