Wakil Rektor II UMN Andrey Andoko (kiri) dan Keynote Speaker Viola Lasmana (kanan). (Foto: Dok. UMN/Humas)
Wakil Rektor II UMN Andrey Andoko (kiri) dan Keynote Speaker Viola Lasmana (kanan). (Foto: Dok. UMN/Humas)

UMN Gelar Konferensi ‘Gambar Bergerak’ Pertama di Indonesia

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 03 Juli 2019 10:08
Jakarta: Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menggelar International Moving Image Cultures Conference (IMOVICCON) 2019. Ini merupakan konferensi ilmiah pertama di Indonesia tentang fenomena budaya ‘gambar bergerak’.
 
Mengangkat tema ‘Small Screen Culture and Digital Society’, konferensi ini menjadi respons terhadap perkembangan teknologi yang membawa masyarakat global beralih ke dunia digital. Sehingga membawa pengaruh besar dalam seni bercerita atau "storytelling".
 
Dalam siaran persnya Wakil Rektor II UMN Andrey Andoko mengatakan bahwa teknologi digital telah memberikan dampak dalam kehidupan manusia. Media elektronik seperti televisi juga akan mengalami disrupsi, mengingat jumlah penontonnya yang mengalami stagnasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya inilah era di mana bisa mengeksplor "small screen". Pertumbuhan smartphone technology (small screen) tidak hanya terjadi pada generasi milenial melainkan juga generasi alfa.
 
"Inilah tantangan kita di industri media. Bagaimana caranya memproduksi konten yang berkualitas, memiliki nilai informasi dan juga hiburan. Dalam hal ini, kita tidak hanya bicara konten melainkan juga menghasilkan revenue,” terang Andrey dalam siaran pers tentang IMOVICCON 2019, Jakarta, Rabu, 3 Juli 2019.
 
Baca juga:OSC Jajaki Kerja Sama dengan University College of Technology
 
Sementara itu, salah satu pembicara utama dari University of Southern California, Amerika Serikat, Viola Lasmana memaparkan penelitiannya yang bertajuk “Analog Amateurism”, memilih small screen culture dan digital society menjadi bahasannya. Viola memberikan contoh kasus 'The Quipu Project'.
 
Proyek ini adalah film dokumenter tentang wanita dan pria yang disterilisasi di Peru pada pertengahan 1990-an. Dua puluh tahun kemudian, mereka masih mencari keadilan.
 
“Dengan menggunakan telepon dan 'web interface' yang dikembangkan secara khusus, kami bekerja dengan beberapa orang yang terkena dampak. Mereka dapat menceritakan kisahnya dengan kata-kata mereka sendiri. Kemudian, orang-orang dari segala penjuru dunia dapat memberikan semangat kepada mereka (survivor),” papar Viola.
 
Viola menambahkan, dengan fasilitas "web interface", survivor akan merasa didengarkan dan kisah mereka dapat menjadi pembicaraan global. Web tersebut juga sudah menggunakan fitur penerjemah ke bahasa lokal agar dipahami survivor, namun tetap menggunakan subtitle Bahasa Inggris agar dipahami oleh masyarakat dunia.
 
Peserta konferensi berasal dari berbagai institusi pendidikan di Tangerang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Australia. Mereka berasal dari berbagai kalangan, di antaranya akademisi, mahasiswa, pekerja seni, pembuat film dan animasi, komunitas dan pemerhati film, animasi, pembuat content, serta pengkaji serta periset multi disiplin ilmu.
 
Konferensi ini berlangsung pada 2 sampai 3 Juli 2019 di Lecture Hall UMN. Acara ini terbuka untuk masyarakat umum yang ingin memperluas cakrawala pengetahuannya dalam diskusi dengan topik seperti mobile screens storytelling, digital/internet content, studi industri over the top (Netflix, iFlix, dll), selebriti internet, vlog, dan fenomena lainnya.
 
Sebagai konferensi ilmiah pertama dalam bidang yang termasuk baru di Indonesia, IMOVICCON diharapkan dapat menjadi wadah diskusi ilmiah. Serta dapat berkontribusi secara aktif dan berkesinambungan dalam mengembangkan sumber daya manusia, baik praktisi maupun akademisi agar menjadi lebih baik.
 

(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif