Produk Kitoshelium, pengawet alami untuk buah-buahan karya mahasiswa Teknik Kimia ITS. Foto:  ITS/Humas
Produk Kitoshelium, pengawet alami untuk buah-buahan karya mahasiswa Teknik Kimia ITS. Foto: ITS/Humas

Pengawet Buah Alami Karya ITS Sabet Perak di ISTEC

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Intan Yunelia • 17 Januari 2020 20:45
Jakarta: Mahasiswa Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menyumbangkan prestasi internasional. Ferdi Saepulah dan Filo Sofia Kamila Mukmin berhasil menyabet medali perak kategori Science College dalam ajang International Science Technology Engineering and Competition (ISTEC).
 
Ferdi mengungkapkan, setiap tim atau peserta diberikan stan dan memasang poster untuk memamerkan produknya semenarik mungkin. Lalu juri akan memberikan penilaian kepada masing-masing produknya.
 
“Produk kami berupa pengawet buah-buahan dan kebetulan kita dapat juri dari Afrika Selatan dan Thailand,” ungkap Ferdi dalam keterangan tertulis, Jumat, 17 januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pemuda kelahiran Bandung ini memaparkan, inspirasinya muncul dari teman ibundanya yang memiliki usaha salad buah. Namun mempunyai kendala buahnya yang mudah membusuk walaupun dimasukkan ke dalam pendingin.
 
Memasukkan buah ke dalam lemari pendingin ternyata juga membuat buah berkurang kesegarannya. “Teman mama waktu itu menantang saya buat mencari solusi ini, karena saya dari teknik kimia maka dari itu saya menyanggupi dan mencobanya,” cerita Ferdi.
 
Dengan adanya Kitoshelium, lanjut mahasiswa angkatan 2019 ini, kesegaran buah yang tadinya hanya bertahan dua sampai tiga hari, bertambah hingga seminggu. Konsep ini seperti formalin, yang bisa mengawetkan makanan, tetapi bedanya Kitoshelium ini berbahan dasar alami.
 
Pengawet buah ini terbuat dari ekstrak minyak bawang dan cangkang kerang hijau yang biasanya menjadi limbah. Dari bahan dasar ini dicampur dengan pelarut asam sitrat.
 
Setelah jadi sebuah larutan, buah yang diperlukan direndam selama tiga menit lalu ditiriskan. “Sebelum digunakan atau dikonsumsi, buah yang sudah ditiriskan tadi masih mengandung bau bawang, namun bisa dihilangkan dengan dicuci terlebih dahulu,” jelasnya.
 
Pengawet Buah Alami Karya ITS Sabet Perak di ISTEC
Filo Sofia Kamila Mukmin (kiri) dan Ferdi Saepulah usai menerima penghargaan Medali Perak di ajang internasional ISTEC. Foto: ITS/Humas
 
Tim yang dibimbing oleh Setiyo Gunawan ST PhD ini juga mengatakan, kalau penilaian juri yang bisa membuat mereka meraih medali perak adalah produk yang mereka hasilkan belum pernah ditemukan oleh peneliti lainnya. “Penelitian ini merupakan inovasi terbaru yang kami hasilkan, dan kami berencana membuat jurnalnya agar bisa terpatenkan,” tutur Ferdi.
 
Tak hanya sampai di situ, imbuhnya, mereka juga membuat roadmap skala pabrik, rancangan penjualan, dan juga sudah dikomersialkan. “Penjualan dari Kitoshelium ini masih dipromosikan ke mahasiswa sini-sini (ITS) saja sih, semoga ke depannya bisa lebih banyak peminatnya,” ujar mahasiswa kelahiran 29 April 1999 ini.
 
Meraih medali perak merupakan capaian di luar perkiraan mereka. Pasalnya, mereka juga bersaing dengan tim-tim lawan yang mempunyai inovasi lebih bagus dan menarik, terlebih saingan dari negara seperti Brazil.
 
“Ada dari Universitas Andalas yang juga mengeluarkan produk serupa, bentuknya pengawet makanan bakso, namun inovasinya mengembangkan dari jurnal sebelumnya, bukan benar-benar baru,” jelasnya.
 
Ferdi berharap hasil dari karyanya bersama tim tersebut bisa dikembangkan lagi. “Semoga lebih banyak yang minat dengan produk kami, dan ke depannya ingin menemukan terobosan baru yang fokus pada bidang teknologi,” tutup Ferdi.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif