Naskah Tanjung Tanah. Foto: Dok. Humas Kebudayaan
Naskah Tanjung Tanah. Foto: Dok. Humas Kebudayaan

Naskah Tanjung Tanah Dibuka, Diawali Kenduri Sko Setelah 2 Tahun Tertunda

Citra Larasati • 16 Mei 2022 10:42
Jakarta:  Naskah Tanjung Tanah merupakan Kitab Undang-undang dari abad 1400 Masehi. Pada naskah tersebut nama Dharmasraya disebutkan sebanyak dua kali dan disebutkan sebagai daerah di hulu Sungai Batanghari.
 
Sebagai jalur peradaban, Sungai Batanghari menjadi pusat lintasan budaya. Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah tersimpan di Kampung Tanjung Tanah, Kabupaten Kerinci.
 
Naskah ini hanya dibuka setiap 5 tahun sekali, terakhir pada tahun 2015, dan harus diawali dengan pelaksanakan Kenduri Sko. “Semestinya kami mengadakan kenduri ini tahun 2020, namun karena pandemi terpaksa ditunda hingga tahun ini” ungkap Said Hanafi, Pucuk Depati Talam, Tanjung Tanah, dalam siaran persnya, Senin, 16 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kenduri Sko, perhelatan adat untuk membuka dan membersihkan pusaka ini dilaksanakan di Kampung Tanjung Tanah, 12-14 Mei 2022. Didukung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Kenduri Sko Kampung Tanjung Tanah tahun ini, menjadi spesial.
 
Kegiatan ini mengawali kenduri Swarnabhumi, perhelatan budaya di daerah sepanjang Sungai Batanghari dari mulai Kabupaten Dharmasraya hingga Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebagai muara dari Sungai Batanghari. Penyelenggaraan Kenduri Sko dimulai dengan prosesi adat meminta izin kepada leluhur dan penyembelihan kerbau.
 
Lalu pada hari berikutnya, dilaksanakan gotong royong menyiapkan makanan untuk kenduri dan ritual penurunan sekaligus penyucian pusaka. Kemudian hari terakhir berlangsung adat Mangarak Sko, pengukuhan pemangku adat dan ditutup dengan pagelaran seni budaya lokal.
 
Direktur Perfilman, Musik dan Media Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Ahmad Mahendra mendapat gelar adat Depati Talam Rajo Batuah oleh Pucuk Depati Talam Tanjung Tanah. Pemberian gelar adat itu, kata Mahendra, menjadi kebanggan karena membuktikan jika tradisi budaya Melayu Nusantara dari masa lalu masih terjaga meski zaman terus berkembang.
 
“Gelar adat ini suatu kehormatan. Budaya Melayu Nusantara tidak hilang, sebaliknya tetap jadi kebanggaan yang dilestarikan. Waktunya terus membesarkan hingga ke kancah dunia,” ucap Mahendra.
 
Mahendra mengatakan, segala tradisi masyarakat yang bertujuan guna melindungi dan melestarikan orisinalitas kebudayaan nasional patut dijaga. Menurutnya, Kenduri Sko merupakan salah satu bagian dari gerakan pemajuan kebudayaan Melayu di Indonesia yang telah amat lama.
 
“Kenduri Sko adalah upaya membangkitkan budaya Melayu Nusantara. Sehingga kita semua bangga dengan kekayaan budaya bangsa sendiri. Mari kita semarakkan Kenduri Sko yang mengawali dimulainya rangkaian Kenduri Swarnabhumi,” ujar Mahendra.
 
Baca juga:  Jadi Guru Tamu, Mendikbudristek Masuk Kelas Bersama Desta
 
Dalam rutinitas pelaksanaan Kenduri Sko terdapat cermin cara berperilaku masyarakat Indonesia yang menjadi jatidiri sampai sekarang yaitu gotong royong. “Roh kebudayaan gotong royong tersebut jangan sampai memudar seiring dengan majunya zaman di era digital. Oleh karena itu, kita membutuhkan beberapa usaha untuk melestarikan perilaku gotong royong supaya tetap bisa bertahan, salah satunya melalui Kenduri Sko,” pungkas Mahendra.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif