Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko (kanan) dan Menristekdikti, Mohamad Nasir (kiri). Foto:  Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo
Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko (kanan) dan Menristekdikti, Mohamad Nasir (kiri). Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo

Nilai Beasiswa 'Kopassus' Ilmuwan Rp4,8 Miliar Setahun

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Kautsar Widya Prabowo • 15 Oktober 2019 19:31
Jakarta: Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir menyebut besaran biaya pendidikan bagi talenta muda yang masuk dalam program "Komando Pasukan Khusus (Kopassus)" Ilmuwan atau nama resminya adalah Garuda Ace (Academic of Excellence) mencapai miliaran rupiah per orangnya. Biaya tersebut akan ditanggung oleh pemerintah Amerika Serikat.
 
"Di University of Chicago satu semester tuition fee-nya USD40 ribu, setahun USD80 ribu, berarti satu mahasiswa sekitar Rp 4,8 miliar setahun. University Chicago ini 10 universitas terbaik di dunia. Ini kita diberi beasiswa sebanyak 100 mahasiswa Indonesia belum biaya hidupnya dan ini ditanggung oleh Amerika. Ini yang luar biasa, ini harus kita manfaatkan," ujar Nasir di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat, Selasa, 15 Oktober 2019.
 
Untuk diketahui, mulai 2020 Kemenristekdikti akan menyeleksi mahasiswa sarjana untuk melanjutkan pendidikan magister di Amerika Serikat. Nasir menilai program 'Kopassus' Ilmuwan akan membawa dampak yang positif bagi perkembangan pendidikan Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lantaran negara-negara seperti Tiongkok telah menerapakan program yang sama dengan dampak yang baik. "Cina bisa maju karena seperti itu, maka kita lakukan hal yang sama dan kita harus bisa masifkan," tuturnya.
 
Talenta muda yang akan mendapatkan beasiswa tersebut dipastikan akan melewati tahapan yang ketat. Selain memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,5, ia juga harus memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.
 
"Jangan sampai setelah mendapatkan pendidikan baik, kita tidak punya rasa nasionalisme, tidak punya paham ideologi bangsa, yaitu pancasila, enggak boleh. Kami tidak akan membiyaai orang-orang yang enggak ada nasionalisme," tegasnya.
 
Pasalnya setelah kurun waktu pendidikan dua tahun, yang bersangkutan harus kembali ke Tanah Air untuk membangun Indonesia lebih baik. Tentunya melalui keahlianya masing-masing.
 
"Sesuai bidangnya, bisa jadi periset, dosen dan seterusnya. Mau masuk industri ya silakan. Yang penting bagaimana membangun pendidikan bisa membangun ekonomi," ucapnya.
 
Sebelumnya,Pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akan membentuk program Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Ilmuwan , yang berisikan talenta-talenta muda dengan kemampuan di atas rata-rata. Langkah tersebut untuk mengejar ketertinggalan pendidikan Indonesia dari negara-negara lain, terutama India dan Tiongkok.
 
Menteri Riset Teknologi dan Perguruaan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan, program Kopassus Ilmuwan bekerja sama dengan University of Chicago. Program akan berjalan pada 2020 dengan fokus untuk mencari talenta muda dengan kemampuan di bidang sains dan teknologi.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif