Semar Bone Graft hasil inovasi dosen UNS.  Foto: UNS/Dok. Humas
Semar Bone Graft hasil inovasi dosen UNS. Foto: UNS/Dok. Humas

Dosen UNS Temukan Material Pengisi Tulang

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Citra Larasati • 12 September 2019 19:01
Jakarta: Dosen Program Studi (Prodi) Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr Joko Triyono bersama tim berhasil menciptakan material tiruan yang digunakan untuk menggantikan atau memperbaiki tulang yang rusaK, Bone graft atau Bone filler.
 
Bone graft ini memiliki fungsi sebagai material pengisi tulang. Hasil karya Joko dan tim diberi nama Semar Bone graft. Joko mengatakan, dalam melakukan penelitian hingga menghasilkan produk tersebut, ia melibatkan beberapa dosen lain dari berbagai disiplin ilmu.
 
Di antaranya dengan dr Suyatmi M. BiomedSc dari Fakultas Kedokteran (FK) UNS dan dr I Dewa Nyoman Suci Anindya Murdiyantara Sp.OT dari RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.
Joko mengatakan, UNS mengembangkan bone graft ini karena produk serupa yang digunakan di rumah sakit merupakan buatan luar negeri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hingga saat ini belum ada produk lokal yang masuk dalam e-katalog.lkpp.go.id sebagai syarat produk bisa diklaimkan BPJS. Selain itu, banyak kasus operasi patah tulang yang memerlukan bone graft.
 
"Survei di tahun 2010 terdapat 4.537 pasien patah tulang di RS Orthopedi Prof. Soeharso Surakarta," ujar Joko di sela-sela acara Roadshow LPPM UNS, Kamis, 12 September 2019.
 
Untuk itu, Joko dan tim ingin mengembangkan bone graft yang terbuat dari bahan xenograft atau dari tulang sapi. Tulang sapi diambil dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jagalan, Solo.
 
Cara membuatnya yaitu dengan pemilihan bahan berupa tulang sapi yang masih segar. Kemudian proses demineralisasi dan deproteinisasi yaitu proses menghilangkan kandungan mineral dan protein.
 
Ini dilakukan dengan cara tulang dijemur matahari kemudian direbus dengan air mendidih sebanyak 3 kali. Kemudian tulang dipotong menjadi bagian kecil-kecil dengan ukuran 10 x 10 x 10 mm. Lalu dipanaskan pada oven hingga suhu 1.200 derajat celcius ditahan selama dua jam serta dilakukan proses sterilisasi bahan.
 
"Kita memilih tulang sapi karena kita ingin memanfaatkan produk lokal dan tulang sapi ini biasanya belum dimanfaatkan secara maksimal. Sehingga kami berusaha untuk bisa memaksimalkan manfaat dari tulang sapi ini, dan tentunya harganya juga murah," katanya.
 
Sedangkan untuk bone graft impor terbuat dari bahan sintetis atau dari bahan-bahan kimia. Material yang biasa digunakan di RS masih impor (sebagai contoh produk impor Bio-oss, Bongros dari Korea.
 
Harga produk impor ini sangat mahal yaitu Rp1,7 juta per 5 cc dan produk ini sudah masuk e-katalog.lkpp.go.id. "Sedangkan kalau kita pakai Semar Bone Graft ini harganya jauh lebih murah yaitu Rp400.000 per 10 cc," terang Joko.
 
Joko berharap hasil temuannya bersama tim ini nantinya bisa dikembangkan dan ada kerja sama dengan industri. "Sudah kami lakukan uji coba dengan tikus putih kerja sama dengan Fakultas Peternakan UGM, hasilnya tidak ada peradangan, tidak ada infeksi dan ada tulang yang tumbuh," katanya.
 
Joko dan tim sejak 2016 mulai melakukan penelitian ini. Bahkan berkat temuannya ini, ia memperoleh hibah Calon Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) dari Kemenristekdikti senilai Rp200 juta.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif