Dosen Fakultas Kedokteran UNS, Reviono. Foto: UNS/Humas
Dosen Fakultas Kedokteran UNS, Reviono. Foto: UNS/Humas

Dosen UNS Kantongi Tips Pencegahan Virus Korona

Pendidikan virus korona Riset dan Penelitian
Ilham Pratama Putra • 28 Januari 2020 11:43
Jakarta: Virus korona mengejutkan masyarakat dunia di awal 2020 ini. Namun masyarakat Indonesia diminta tidak panik, sebab dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta memiliki cara untuk mengantisipasi virus Novel Coronavirus (2019-nCov) tersebut.
 
Dosen UNS, Reviono telah melakukan kajian bagaimana mengantisipasi penyebaran virus Corona. Ada beberapa langkah awal yang dapat dilakukan masyarakat.
 
Di antaranya mencuci tangan pakai sabun, menggunakan masker, konsumsi gizi seimbang, perbanyak sayur dan buah. Selain itu diperlukan juga menjaga kebugaran tubuh, menghindari sumber infeksi, dan istirahat cukup.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Larangan mengonsumsi daging yang tidak dimasak juga menjadi peringatan bagi Revino yang juga menjabat Dekan FK UNS ini. Begitu juga ketika sedang flu, dia meminta masyarakat jangan keluar rumah agar tidak menjadi sumber infeksi.
 
“Selalu cuci tangan ketika habis bepergian itu sangat penting. Karena tangan kita sering menyentuh pegangan pintu, pegangan tangga, dan lainnya dikhawatirkan tangan kita terkena virus,” kata Revino dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 28 Januari 2020.
 
Reviono menyebut penularan virus korona ini sangat cepat, selain itu penyebarannya bisa melalui manusia ke manusia. Sehingga masyarakat harus mengetahui gejala apa saja yang dirasakan jika terpapar virus korona ini.
 
Untuk gejalanya meliputi batuk, demam, kesulitan bernapas. Adanya riwayat kontak dengan pasien positif terkena virus korona, juga menjadi faktor seseorang bisa terkena virus Corona.
 
“Jika ada yang mengalami gejala seperti itu, maka segera periksakan diri ke pelayanan kesehatan atau rumah sakit supaya bisa segera dicek dan memperoleh tindakan medis,” lanjutnya.
 
Sama dengan catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dia juga menyatakan di Indonesia, belum ada yang terjangkit virus korona. Meski begitu, pihak pemerintah dinilainya telah siaga dalam menyikapi hadirnya virus korona ini.
 
Yaitu dengan menutup penerbangan dari dan ke Cina serta memasang alat detektor panas tubuh di berbagai bandara. “Jadi kalau ada yang terkena virus korona, maka suhu tubuh meningkat. Sehingga di beberapa bandara memasang alat ini untuk mendeteksi yang terinfeksi virus korona,” ujar Revino.
 
Dia menambahkan, bahwa kasus virus corona di Wuhan, Cina, telah menelan korban jiwa hingga puluhan orang. Dengan mayoritas terjangkit ialah orang tua dengan penyakit penyerta. Sedangkan 80 persen penderita sembuh karena tidak ada penyakit penyerta dan usia tergolong masih muda.
 
“80 persen pasien di Cina ini sembuh dengan sendirinya karena memang belum ada vaksin khusus virus korona. Sebagai contoh jika kita terkena flu, tidak minum obat pun bisa sembuh karena virus dengan umurnya bisa mati sendiri," tambahnya.
 
Menurutnya di dalam tubuh manusia terdapat interferon yaitu berupa protein alami yang diproduksi tubuh sebagai respon tubuh dalam melawan senyawa berbahaya, seperti virus. Kalau produksi interferon cukup maka virus bisa terkendali pertumbuhannya dan mati sendiri.
 
"Namun kalau sudah berusia tua dan ada penyakit yang disertai, produksi interferon tidak cukup dan virus bisa tumbuh terus,” tukasnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif