NEWSTICKER
Ilustrasi. Foto: MI/Gino Hadi
Ilustrasi. Foto: MI/Gino Hadi

Korona, Momentum Sekolah Memperkaya Konten dan Model Belajar

Pendidikan Virus Korona Metode Pembelajaran
Muhammad Syahrul Ramadhan • 23 Maret 2020 08:08
Jakarta: Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina, Totok Amin Soefianto menilai digelarnya belajar secara daring di tengah upaya menekan meluasnya penyebaran virus Korona harus dijadikan sebagai momentum memperbaiki sistem pembelajaran di sekolah. Setiap sekolah harus menyesuaikan metode belajar yang lebih fleksibel, kaya konten, kaya model dan berbasis teknologi.
 
Menurut Totok, jika memang sekolah sudah mempunyai sistem manajemen pembelajaran yang baik, penerapan belajar daring sudah harus ditingkatkan, tidak hanya sekadar memberi tugas. Sistem pembelajarannya harus diperkaya dengan konten bahan ajar yang bisa diakses dengan mudah.
 
“Buat yang belum siap teknologinya, bisa saja menggunakan modul jarak jauh berupa tutorial dan tugas dengan kertas sesuai target kompetensi yang ingin dicapai. Untuk yang sudah punya sistem manajemen pembelajaran, dapat memperkaya isi dan proses evaluasinya,” ujar Totok kepada Medcom.id, Senin 23 Maret 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara untuk pengawasan pembelajaran daring ini, menurutnya sudah dilakukan oleh masing-masing Dinas Pendidikan di daerah yang mengganti sistem pembelajaran menjadi jarak jauh. “Dinas dan suku dinas di wilayah sebenarnya sudah ada jadwal pengawasan rutin dari atas sampai guru di lapangan. Daerah-daerah lain juga demikian,” kata Totok.
 
Baca juga:KPAI Kebanjiran Aduan tentang Keluhan Belajar Daring
 
Kondisi ini, kata dia, harus dapat diambil hikmahnya oleh semua pihak, terutama pemangku kepentingan di dunia pendidikan. Salah satunya dengan menjadikan ini sebagai momentum untuk memperbaiki pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan zaman, harus dibuat fleksibel tidak harus di sekolah ataupun kelas.
 
“Kondisi ini justru memberi hikmah agar kita mulai menerapkan pembelajaran yang fleksibel, baik di sekolah maupun di rumah. Esensinya anak didik dapat tetap belajar meski tidak di kelas atau sekolah,” tuturnya.
 
Sebelumnya,Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 51 aduan dari siswa yang berisi tentang keluhan dalam mengikuti sistem belajar online atau belajar daring. Aduan dari berbagai daerah itu mengeluhkan beratnya penugasan dari guru.
 
"Harus dikerjakan dengan deadline yang sempit, padahal banyak tugas yang harus dikerjakan segera juga dari guru mata pelajaran yang lain," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti dalam keterangannya, Kamis, 19 Maret 2020.
 
Pengaduan berasal dari berbagai daerah dan jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA maupun SMK. Adapun wilayah para pembuat aduan di antaranya dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Tangerang dan Tangerang Selatan.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif