Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Zita Anjani. Foto: Medcom/Ilham Pratama Putra
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Zita Anjani. Foto: Medcom/Ilham Pratama Putra

Kenormalan Baru di Sekolah Diminta Disertai Perubahan Kurikulum

Pendidikan sekolah Kenormalan Baru
Ilham Pratama Putra • 19 Juni 2020 07:09
Jakarta: Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Zita Anjani mendorong agar masa kenormalan baru di sektor pendidikan disertai perubahan kurikulum dan sistem penilaian. Bahan belajar juga diminta dilakukan inovasi.
 
"Dibuat lebih modern. Pake PDF kek, atau bahannya bisa dikirim ke rumah siswa sampai ke pedalaman. Metode diubah bersama komunikasi dan fasilitasnya," kata Zita di Graha Semesta Insani, Jakarta Pusat, Kamis, 18 Juni 2020.
 
Apabila sistem pembelajaran masih diharuskan secara daring, ia meminta pemerintah memastikan seluruh siswa bisa mengakses internet dan memilki gawai. Jika hal itu tak mampu dipenuhi, regulasi belajar tatap muka berbasis kenormalan baru harus segera dilakukan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Misal saat orang tua tidak bisa mendampingi, kumpulkan anak di kantor RW atau ruang terbuka hijau, jadi guru bisa datang ke wilayah itu untuk mengajar," ujarnya.
 
Ia pun menyoroti kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang belum mengizinkan sekolah dibuka di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi. Dia mempertanyakan posisi dunia pendidikan dibanding sektor lainnya.
 
Baca:Kemendikbud Bahas Penyederhanaan Kurikulum, Ini Rancangannya
 
Zita juga menyoroti pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi. Ia menilai PJJ selama ini tidak efektif lantaran banyak siswa yang justru tidak belajar di rumah.
 
"Di DKI itu masih banyak anak yang tidak belajar. Gurunya juga enggak tahu harus bagaimana dan cuma kirim link YouTube buat belajar," ujarnya.
 
Masalah serupa disebut terjadi pada mahasiswa. Para kaum intelektual itu disebut banyak kehilangan pelajaran, utamanya yang membutuhkan pembelajaran praktik.
 
"Apalagi mahasiswa kedokteran, apa kabarnya tiga bulan enggak kuliah. Mana bisa biologi belajar di internet, belah mayat segala macem eggak praktik," ujar Zita.
 
Sudah pembelajaran tidak maksimal, kata dia, peserta didik juga harus tetap membayar biaya pendidikan. Ia pun meminta setiap permasalahan dicarikan jalan keluar masing-masing.
 
"Jangan bikin satu solusi untuk semua, itu enggak bisa. Indonesia kan macem-macam, ada yang di kota, ada yang tidak tersentuh internet, ada yang di pedalaman," cetusnya.
 

(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif