Kiprah Perguruan Tinggi Dinantikan Bangkitkan Gelora Ekspor Indonesia

Husen Miftahudin 22 Desember 2017 11:14 WIB
pendidikan
Kiprah Perguruan Tinggi Dinantikan Bangkitkan Gelora Ekspor Indonesia
Penandatanganan nota kesepahaman Indonesia EximBank dengan perguruan tinggi untuk mendongkar ekspor Indonesia di Jakarta, 21 Desember 2017, Medcom.id - Husen
Jakarta: Pemerintah menanti kiprah perguruan tinggi untuk pengembangan ekspor. Maklum, ekspor Indonesia melesu sejak 2014. 

Pada 2016, nilai ekspor Indonesia hanya USD144,43 miliar atau setara Rp1.920,92 triliun (kurs Rp13.300 per USD). Angka itu merosot 3,95 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berhasil membukukan ekspor senilai USD150,37 miliar atau sekitar Rp1.999,92 triliun.


Namun, kata Kepala UKM Center Universitas Indonesia (UI) Zakir Machmud, ekspor nasional mulai alami perbaikan sejak Juli 2016. Peningkatan terjadi lantaran harga komoditas global yang melonjak sehingga menolong hasil ekspor Indonesia. 

"Tapi kita juga harus ingat bahwa tantangan dan risiko ekonomi global di luar itu juga cukup besar. Ada kebijakan politik ekonomi Amerika, ada masalah penuaan penduduk, ada migrasi, ada beberapa hal-hal lagi seperti konflik keamanan, geopolitik, perubahan iklim yang semua itu mempengaruhi ekspor," kata Zakir di Gedung Djuanda I Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jalan Wahidin Raya, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Desember 2017.

Pemerintah tak bisa hadapi tantangan itu sendiri, terlebih produk ekspor Indonesia masih sulit berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Dalam hal ini, pemerintah butuh kiprah perguruan tinggi untuk memperkaya inovasi demi memperkaya produk ekspor.

Maka itu, langkah Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menggandeng 11 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dinilai tepat untuk menggenjot ekspor nasional. Kerja sama itu membentuk Jaringan Perguruan Tinggi untuk Pembangunan Ekspor Indonesia atau University Network for Indonesia Export Development (UNIED).

Adapun 11 PTN yang tergabung dalam UNIED adalah Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Hasanuddin (UNHAS), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Riau (UNRI), Universitas Mataram (UNRAM), dan Universitas Udayana (UNUD).

"Aktivitas yang dirorong adalah kajian-kajian, baik kajian yang sifatnya kebijakan, regulasi, maupun strategi ekspor yang berbasis riset. Jadi proses pasarnya dimana, produknya apa, siapa yang mesti ditolong, itu adalah kajian-kajian yang akan kita lakukan. Begitu pula dengan bentuk konkretnya dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusianya, baik itu dari sisi perguruan tingginya, mapun dari sisi pelaku ekspornya yang semua berorientasi ekspor," tegas Zakir.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyambut baik kerja sama tersebut. Inovasi dari produk yang dihasilkan perguruan tinggi diharapkan meningkatkan kinerja ekspor nasional, apalagi ekspor Indonesia masih ketinggalan dibanding negara-negara di kawasan ASEAN.

"Ini adalah sesuatu hal yang sangat ironis. Kita potensial tinggi, tapi ekspor kita masih sangat rendah," kata Nasir.

Perguruan tinggi diyakini mampu menghasilkan inovasi produk bernilai jual dan laku di pasar global. Kondisi tersebut bakal mengurangi impor terhadap produk-produk yang sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri.

"Harus ciptakan inovasi-inovasi, kita kembangkan supaya jadi produk ekspor yang lebih baik," tegasnya.

Para kampus yang tergabung pun diminta untuk segera menggodok target yang harus dicapai dalam waktu dekat. Dia bilang, kerja sama itu harus ada progres, tidak berhenti pada seremonial kerja sama belaka.

"Kami mohon untuk kerja sama ini dimanfaatkan sebaik-baiknya. Bukan hanya setelah MoU kemudian berhenti di laci, tapi kalau bisa harus punya target yang nyata untuk ekspor nasional," kata Nasir mengakhiri.



(RRN)