Ilustrasi perempuan. DOK Unesa
Ilustrasi perempuan. DOK Unesa

Menjadi Kartini, Menjadi Perempuan Berkarya dan Berdaya

Pendidikan Hari Kartini Perempuan Universitas Negeri Surabaya
Renatha Swasty • 22 April 2022 10:41
Jakarta: Peringatan Hari Kartini mesti dimaknai sebagai momentum refleksi sekaligus meneguhkan posisi dan gerakan pemberdayaan perempuan ke depan. Salah satunya, ketidaksetaraan gender yang masih membelenggu perempuan.
 
Komnas Perempuan mencatat terjadi peningkatan kasus kekerasan berbasis gender (KBG) kepada perempuan pada 2021 dengan jumlah 338.496 kasus. Sementara itu, pada 2020 terdapat 226.062 kasus.
 
Selain itu, banyak kasus lain yang memperlihatkan masih terjadi ketimpangan gender di tengah masyarakat. Sekretaris Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Putri Aisyiyah Rachma Dewi menyebut mewujudkan struktur dan budaya sosial yang sensitif gender di tengah budaya patriarki yang mengakar tidak mudah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Perempuan masih dipandang sebagai objektifikasi yang rendah. Ditambah fenomena glass ceiling (kaca-kaca pembatas) sebagai pembatas atau yang mencegah perempuan untuk menempati posisi yang lebih tinggi,” ujar Putri dikutip dari laman unesa.ac.id, Jumat, 22 April 2022.
 
Dia menuturkan perlu kesadaran dan gerakan banyak pihak, baik pemerintah, institusi, dan organisasi terkait termasuk perempuan. Dia menyebut pemaknaan Hari Kartini harus dilihat sebagai penguatan gerakan kesadaran dan pemberdayaan perempuan. Sehingga, perayaan Hari Kartini benar-benar bisa berdampak pada perbaikan kondisi perempuan sesuai perjuangan RA Kartini dulu.
 
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Unesa itu menyebut pada momentum ini, perempuan harus mengimplementasikan nilai perjuangan Kartini dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari yang terkecil dan tentu dari diri sendiri.
 
Putri membagikan tips menjadi Kartini modern. Pertama, perempuan harus memiliki mindset early adopter atau mencerdaskan diri dan mengasah berbagai kompetensi masa kini.
 
“Dengan begitu, perempuan bisa menghadapi perubahan sosial dan mampu mengambil berbagai keputusan tanpa minder dan tidak merasa sebagai second class,” tutur dia.
 
Kedua, membekali diri dengan setting goals yang terukur, berdasarkan rencana matang dan meneruskan perjuangan Kartini lewat berbagai karya dan inovasi.
 
“Perempuan yang tangguh adalah perempuan yang bisa mengenali dirinya sendiri, sehingga perempuan dengan segala aset, capability, dan pemikirannya diimplementasikan dengan bijak dan sesuai porsinya,” papar dia.
 
Ketiga, membangun support system yang makin mendorong perempuan dalam berkarya dan berinovasi serta terlibat dalam gerakan pemberdayaan. Putri menyebut spirit, perjuangan, dan karya yang membuat Kartini bisa menginspirasi bangsa dan perempuan hingga kini bahkan sampai nanti.
 
"Karena itu, menjadi Kartini yaitu menjadi perempuan yang berdaya dan berkarya. Selamat Hari Kartini!," kata Putri.
 
Baca: Kartini Masa Kini: Dosen Undip yang Gencar Teliti Kambing
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif