Mendikbud, Nadiem Makarim. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Mendikbud, Nadiem Makarim. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Guru Muhammadiyah Beri Rapor C untuk Kinerja Kemendikbud

Pendidikan guru Kebijakan pendidikan
Muhammad Syahrul Ramadhan • 20 Mei 2020 21:36
Jakarta: Hasil survei Forum Guru Muhammadiyah (FGM) menunjukkan kinerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) selama dinahkodai Nadiem Makarim pada semester pertama ini masih rendah. Dari hasil survei terahadap seribu guru yang dilakukan melalui angket, dari nilai 1 sampai 10, kinerja Kemendikbud masih diberi nilai C atau berada di poin 6,66.
 
Ini kalau diibaratkan KKM (Kriteria Kelulusan Minimal) dalam sekolah kata Ketua FGM Pahri, untuk level Kementerian masih rendah. Karena KKM-nya harusnya 8. “KKM selevel Mendikbud harusnya nilai 8. Berarti nilai 6,66 itu belum memenuhi standar KKM. Ada 1,4 poin lagi yang harus dikejar dalam enam bulan ke depan,” kata Pahri dalam diskusi daring bertema Evaluasi Kebijakan Pendidikan Nasional, Rabu, 20 Mei 2020.
 
Pahri berharap hasil evaluasi ini bisa menjadi acuan bagi Nadiem dalam perbaikan di semester depan agar lebih baik. Terutama bagaimana agar memenuhi banyak harapan orang pada Nadiem sebagai seorang Menteri ‘milenial’.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


?“Ke depan harus diperbaiki, harapan milenial gaya milenial dipakai tidak ada sekat, gandeng organisasi guru. Kami bukan musuh, tapi kami membantu negara, sehingga bisa bekerja dengan baik. Kesimpulan masih secara abjad masih C, ke depan harus naik,” tegasnya.
 
Baca juga:Survei IGI: Kinerja Kemendikbud Era Nadiem Biasa Saja
 
Pahri menjelaskan, ada dua instrumen yang menjadi ukuran kinerja. Pertama, fungsi manajemen dengan indikator planning, socialization, coordinating, doing dan controlling. Kedua, program Merdeka Belajar dengan indikator, Ujian Nasional (UN), Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN), RPP, dan PPDB Zonasi.
 
Dalam survei ini, guru memberi nilai 1 sampai 10 (1 terendah dan 10 tertinggi). Untuk planning atau perencanaan, sebut Pahri, nilai tujuh ke bawah totalnya 55 persen, sedangkan nilai 7 ke atas 45 persen.
 
“Artinya kemampuan Bapak Menteri kita dalam membuat perencanan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional itu masih sangat rendah. Sementara ini kecenderungannya untuk pencitraan,” ungkapnya.
 
Kemampuan sosialiasi ini, lanjut Pahri, justru sangat buruk. Pasalnya sering kali forum-forum guru sulit mendapatkan akses informasi. Tercatat untuk sosialisasi ini 60 persen guru memberi nilai 7 ke bawah, dan hanya 40 persen yang memberi nilai di atas 7.
 
“Jangankan langsung Pak Menteri, dengan staf khusus, dirjen atau dengan direktur sangat sulit sekali. Bagaimana kebijakan Kemendikbud bisa sampai ke tingkat guru dan kepala sekolah jika pola komunikasinya begini. Ini harus diselesaikan,” jelasnya.
 
Baca juga:Organisasi Guru Kritisi Pola Komunikasi Nadiem
 
Selanjutnya adalah, kemampuan Kemendikbud dalam mengerjakan program Merdeka Belajar. Sebanyak 57 persen guru menilai kinerja Kemendikbud masih rendah. Kemudian untuk fungsi kontrol, sebanyak 70 persen guru menilai Kemendibud masih belum optimal.
 
“Kemudian mengukur Merdeka Belajar. Persepsi guru sangat senang. Artinya 50 persen itu menyambut positif, hal bagus bagi Pak Menteri untuk menindaklanjuti, perencanaan, dan disosilisakikan agar tidak terjadi tumpang tindih,” ujarnya.
 
Lalu untuk penilaian Ujian Nasional yang diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, ujar Fahri, ada juga guru yang tidak suka. Sebanyak 55 persen guru memberi penilaian 7 ke bawah.
 
“UN diganti membuat guru senang, tapi ada juga yang tidak (senang). Menurut mereka, UN tidak ada sering membuat siswa tidak semangat belajar,” tuturnya.
 
Sementara untuk tiga kebijakan Merdeka Belajar lainnya seperti UASBN, RPP dan PPDB zonasi mendapat respons positif dari guru. Ketiganya lebih dari 60 persen memberi nilai baik di atas 7. Seperti RPP lebih dari 70 persen memberi nilai 8 ke atas.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif