Guru tengah mengajarkan siswa di muka kelas. Foto: MI/Panca Syurkani
Guru tengah mengajarkan siswa di muka kelas. Foto: MI/Panca Syurkani

PISA Melorot, Pemerintah Perlu Belajar dari Negara Tetangga

Pendidikan Kualitas Pendidikan PISA 2018
Muhammad Syahrul Ramadhan • 04 Desember 2019 15:46
Jakarta: Hasil penilaian PISA (Programme for International Student Assessment) 2018 menempatkan Indonesia nyaris di posisi buncit, peringkat ke 72 dari 77 negara anggotaThe Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Kondisi ini mengundang keprihatinan dari Ikatan Guru Indonesia (IGI).
 
Ketua Pengurus Pusat IGI, Muhammad Ramli Rahim menyarankan agar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim untuk belajar dari negara tetangga, utamanya Singapura dalam mengelola pendidikan. Sebab pada survei PISA 2015, Singapura berhasil menempati posisi puncak, kemudian tahun ini tetap gemilang meski turun satu peringkat di posisi ke-2 setelah disalip Tiongkok.
 
Sementara itu peringkat Indonesia di antara lima negara di Asia Tenggara yang masuk OECD juga hanya unggul dari Filipina yang berada di posisi buncit dari 77 negara. Sementara Thailand di peringkat ke-66, Brunei Darussalam di peringkat ke-59, dan Malaysia di peringkat ke-56.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kunci utama keberhasilan Singapura terletak pada sistem pendidikan yang meritokrasi atau pendidikan berbasiskan pada keahlian atau prestasi, kurikulum, anggaran pendidikan, kualitas guru, dan desentralisasi pendidikan," kata Ramli di Jakarta, Rabu, 4 Desember 2019.
 
Ramlimenjelaskan, melalui sistem pendidikan yang meritokrasi tersebut, dapat mengidentifikasi kompetensi anak secara lebih baik. Bahkan memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang berdasarkan bakat yang dimilikinya.
 
Dengan sistem itu, anak dari keluarga kurang mampu pun bisa menjadi apapun yang diinginkannya sepanjang memiliki kompetensi. "Singapura menerapkan kurikulum berbeda untuk berbagai jenjang. Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) misalnya, hanya memastikan siswa menguasai Bahasa Inggris, bahasa ibu dan Matematika," kata Ramli.
 
Sementara untuk urusan guru, Singapura memilih orang-orang terbaik untuk diberikan beasiswa guru. Setelah jadi guru, mereka harus mengikuti pengembangan karier selama 100 jam setiap tahunnya.
 
Kesempatan meraih beasiswa dalam dan luar negeri pun diberikan secara terbuka untuk guru. "Kepala sekolah juga diberikan kewenangan untuk mengelola sekolah, asalkan mengacu pada aturan yang diterapkan pemerintah. Melalui desentralisasi tersebut, sekolah dapat leluasa menyesuaikan dan berinovasi," tuturnya.
 
Ia pun menyebut telah memberi usulan kepada Nadiem. Salah satunya terkait mata pelajaran Bahasa Inggris yang diberikan pada level SD. Menurutnya Bahasa Inggris dapat digunakan untuk mendapatkan ilmu lain pada level SMP dan SMA.
 
Usulan tersebut masuk dallam sembilan Usulan IGI yang disampaikan langsung saat audiensi dengan Mendikbud, Nadiem Makarim beberapa waktu lalu.
 
Programme for International Student Assessment (PISA) yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) adalah suatu studi untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang tahun ini diikuti oleh 77 negara di seluruh dunia.
 
Setiap tiga tahun, murid-murid berusia 15 tahun dari sekolah-sekolah yang dipilih secara acak, menempuh tes dalam mata pelajaran utama, yaitu membaca, matematika, dan sains. Tes ini bersifat diagnostik yang digunakan untuk memberikan informasi yang berguna untuk perbaikan sistem pendidikan. Indonesia telah berpartisipasi dalam studi PISA sejak 2000.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif