Mahasiswa UNS raih Best Presentation dalam ajang Urban Motion Vol 3.0 'Resiliensi di Era Disrupsi' Institut Teknologi Bandung (ITB). Foto: UNS/Humas
Mahasiswa UNS raih Best Presentation dalam ajang Urban Motion Vol 3.0 'Resiliensi di Era Disrupsi' Institut Teknologi Bandung (ITB). Foto: UNS/Humas

Mahasiswa UNS Juara 'Urban Motion 3.0 ITB

Pendidikan prestasi mahasiswa Pendidikan Tinggi
Ilham Pratama Putra • 24 Januari 2020 19:52
Jakarta: Prestasi demi prestasi terus diukir mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Kini giliran Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) FT UNS, yang mempersembahkan prestasi bagi UNS bersama timnya dalam ajang Urban Motion Vol 3.0 'Resiliensi di Era Disrupsi' Institut Teknologi Bandung (ITB).
 
Difa Ayu Balqist yang tergabung bersama Aretha Dewi Amandanisa dari Prodi PWK Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Nurhadiana dari Prodi Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Najmuddin Haikal Fikri dari Prodi Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Sinta Aulia dari Prodi PWK Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) berhasil meraih kategori Best Presentation dalam ajang tersebut.
 
Dalam ajang yang digelar pada 17-18 Januari 2020 bertempat di Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, Difa terlebih dahulu mengirimkan esainya yang berjudul 'Inovasi Kebijakan Konsep Low Carbon City dengan Studi Kasus Kota Surakarta, Sukoharjo, dan Karanganyar'. Dalam esai tersebut ia menuangkan idenya untuk mengharapkan suatu kota yang berketahanan atau resilience.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kebetulan untuk lomba kemarin secara individu dengan melampirkan esai mengenai subtema yang dipilih. Kebetulan saya memilih subtema Ecological control. Nah, dari sekian banyak peserta, diambil 60 peserta dengan esai terbaik untuk mengikuti motion summit di ITB," ujar Difa, dalam keterangan tertulis, Jumat, 24 Januari 2020.
 
Lebih lanjut, Difa mengatakan, dalam Urban Motion 3.0 tersebut, ia bersama timnya bersama-sama membedah akar permasalahan dan memberikan solusi mengenai tema yang diberikan.
"Kami diminta untuk menyelesaikan masalah yang diberikan. Masalah ini berkaitan dengan subtema kami yaitu Ecological control dengan Grand topic 'Pengurangan Emisi Karbon`. Kami diminta untuk menyusun pohon masalah (Core Problem, Primary Issue, dan Secondary Issue) setelah didapatkan masalahnya sampai ke akar," jelas Difa.
 
Usai membedah akar masalah, ia bersama timnya diarahkan untuk menyusun pohon tujuan yang berisi solusi dari permasalahan yang ada dengan dibimbing melalui workshop dan diskusi panel yang diberikan oleh coach (influencer/pembicara) sesuai dengan bidangnya.
 
Setelah melalui tahap bimbingan, selanjutnya Difa bersama timnya mempresentasikan pohon masalah tersebut di depan para peserta dan juga coach untuk selanjutnya ditentukan pemenangnya. Saat ditanya mengenai esai yang berhasil mengantarkannya masuk ke dalam 60 besar, Difa berujar bahwa dalam esai yang ia tulis berisi konsep suatu kota yang resilience atau kota yang berketahanan.
 
Tujuannya adalah agar kota tersebut dapat berketahanan dengan perubahan-perubahan yang ada seiring berkembangnya zaman. "Kalau latar belakangnya berkaitan dengan tema, pada saat ini kita telah memasuki era disrupsi, yaitu adanya perubahan fundamental yang sejatinya bisa terjadi kapan saja sehingga memberikan dampak yang signifikan terhadap seluruh aspek tatanan kehidupan. Oleh karenanya, suatu kota diharapkan dapat menjadi kota yang resilience," tambah Difa.
 
Bagi mahasiswa Prodi PWK FT UNS tersebut, konsep Low Carbon City perlu didukung dengan adanya langkah untuk mengurangi emisi dari transportasi umum, konsep green building, pengurangan penggunaan energi, penambahan ruang terbuka hijau (RTH), dan penggunaan energi terbarukan.
 
Namun, dalam implementasinya Difa justru menemui sejumlah permasalahan. Salah satu contohnya, Difa mengatakan, adanya pengalihfungsian lahan menjadi bangunan.
 
Padahal, sebuah kota/ kabupaten setidaknya harus memiliki RTH sebesar 30%. Oleh sebab itu, ia mengusulkan adanya kebijakan insentif dan disinsentif sebagai cara untuk menetapkan kewajiban dalam menerapkan konsep green building dalam membangun suatu bangunan.
 
"Kalau dari esai saya judulnya mengarah ke kebijakan, otomatis dengan ditetapkan adanya kebijakan insentif dan disinsentif atau kalau bisa peraturan dari pemerintah ini akan lebih bagus. Tentunya hal itu akan sangat membantu pengaplikasiannya. Sebagai contoh semisal pemberlakuan pajak yang lebih rendah bagi pabrik yang telah menggunakan konsep green industri dan menggunakan energi terbarukan dalam pengolahan produknya,” pungkasnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif