Pengukuhan Willy Arafah sebagai guru besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti.  Foto:  Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Pengukuhan Willy Arafah sebagai guru besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Trisakti Kukuhkan Guru Besar Ilmu Manajemen

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi Guru Besar
Muhammad Syahrul Ramadhan • 24 Oktober 2019 15:15
Jakarta: Universitas Trisakti mengukuhkan Willy Arafah sebagai guru besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti. Dalam pengukuhan tersebut, Willy menyampaikan pidato pengukuhan berjudul 'Strategi Membangun Daya Saing Industri Halal di Indonesia dalam Perspektif Macromarketing.
 
Willy menjelaskan fakta empiris potensi pasar Industri halal yang bisa menjadi lompatan besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Ia menyebut, berdasarkan hasil penelitian Pew Research center pada 2015, lebih dari 60 persen populasi muslim terbesar secara global berada di Asia dan sisanya berada di Afrika Utara.
 
Sementara itu, berdasarkan data dari Bappenas pada 2019, sebanyak 267 juta penduduk Indonesia mayoritas muslim. Dari data tersebut ungkap Willy, industri halal Indonesia berpotensi mendorong perekonomian bangsa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sehingga industri halal juga diharapkan dapat menjadi sumber baru pertumbuhan ekonomi domestik, sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pertumbuhan yang inklusif," kata Willy dalam Orasi ilmiah pengukuhannya, di Universitas Trisakti, Jakarta Barat, Rabu, 23 Oktober 2019.
 
Namun Willy menjelaskan, yang menghambat industri halal di Indonesia salah satunya adalah Pemerintah belum merampungkan sepenuhnya peraturan perundang-undangan produk jaminan halal.
 
"Pemerintah harus meningkatkan kapasitas lembaga sertifikasi halal," ujarnya.
 
Lebih lanjut dalam perspektif ekonomi saat ini, kata Willy, Indonesia akan menghadapi persaingan global yang sangat ketat. Baik dalam negeri maupun pasar global.
 
Untuk itu diharapkan label halal bukan hanya untuk produk makanan dan minuman. Selain itu, ada beberapa hal yang ia sampaikan untuk mempercepat Industri halal di Indonesia dan mengejar ketertinggalan dari negara lain.
 
"Pertama penguatan sektor hulu sampai hilir dalam industri halal. Penerapan manajemen rantai pasok sangat diperlukan untuk menjamin kualitas," jelasnya.
 
Kedua, penguatan sektor pembiayaan syariah. Ini sangat diperlukan untuk membangun industri halal secara menyeluruh di Indonesia.
 
"Ketiga, penguatan ekonomi digital untuk mendukung transaksi yang dilakukan," kata Willy.
 
Kemudian keempat, mendorong pengembangan gaya hidup halal. Gaya hidup halal memiliki dampak akan membuat Indonesia mengejar ketertinggalan.
 
"Idealnya kualitas spiritual bisa mendorong seseorang untuk memilih gaya hidup halal. Secara berkelanjutan, gaya hidup halal pada akhirnya akan meningkatkan spiritualitas," kata Willy.
 
Kelima, membangun ekosistem dan penguatan kapasitas riset pengembangan untuk industri halal. Serta memberikan insentif bagi universitas yang berupaya mengembangkan industri halal di Indonesia bekerja sama dengan lembaga terkait baik dalam negeri maupun luar negeri.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif