Ilustrasi. Foto: MI/Susanto
Ilustrasi. Foto: MI/Susanto

Indonesia Krisis SDM Penerbangan

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 22 Januari 2020 14:05
Jakarta: Jumlah lulusan sekolah penerbangan di Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan sumber daya manusia (SDM) untuk industri aviasi dalam negeri. Akhirnya banyak tenaga penerbangan baik itu pilot maupun teknisi yang direkrut dari luar negeri.
 
"Ini kalau belum berubah, satu tahun itu kebutuhannya 5.000 SDM. Padahal seluruh sekolah penerbangan di Indonesia sekarang hanya menghasilkan lulusan 1.000-1.500 per tahun. Masih kurang," kata Kepala Biro Kerja sama Mahasiswa dan Alumni Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya) W.T Bhirawa saat ditemui Medcom.id di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu, 22 Januari 2020.
 
Tenaga teknisi, kata Bhirawa, merupakan salah satu jenis SDM yang belum bisa dipenuhi oleh Sekolah Penerbangan. Kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi, karena sekolah penerbangan di Indonesia masih sedikit ditambah dosen untuk penerbangan juga belum banyak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dari Sabang sampai Merauke hanya sekitar 15-20 kampus penerbangan, Jakarta hanya satu (Unsurya). Kita mewisuda plus minus 400 orang sangat kurang sekali kebutuhan 5.000 sampai 10.000 itu," jelasnya.
 
Kurangnya dosen untuk penerbangan juga masih menjadi kendala. Untuk sementara ini dosen-dosen terbaik masih berasal dari S2 Penerbangan ITB. "Sisanya mengambil dosen lulusan luar negeri," imbuhnya.
 
Padaha, kata Bhirawa, banyak peluang kerja di industri Aviasi. Terlebih Presiden Joko Widodo saat ini tengah getol membangun bandar udara. "Misal bandara itu mulai dari masuk parkir, akomodasi, tempat makan, logistik, gudang, tempat tunggu, perawatan pesawat, manajemen bandara termasuk Airnav, berbagai macam bidang ilmu dan itu standar internasional sementara kita menyediakan itu sangat kurang," jelasnya.
 
Sementara itu berdasarkan data Boeing, kebutuhan sumber daya manusia industri penerbangan di kawasan Asia Pasifik bakal melesat dan diperkirakan akan mewakili lebih dari sepertiga permintaan global dalam 20 tahun mendatang.
 
Dalam laporannya, Boeing mengungkapkan, bahwa kawasan Asia Pasifik terus mendorong permintaan global untuk pilot komersial, teknisi, dan awak kabin. Wilayah ini mewakili lebih dari sepertiga dari permintaan global yang diantisipasi, atau secara total 816.000 sumber daya manusia baru dalam industri penerbangan komersial selama 20 tahun ke depan.
 
Masih berdasarkan data Boeing, selama 20 tahun ke depan, maskapai penerbangan di seluruh dunia akan membutuhkan 44.000 pesawat baru. Dengan lebih dari 17.000 pesawat, atau 39 persen, dari pesawat tersebut dikirimkan ke kawasan Asia Pasifik.
 
Prakiraan tersebut memproyeksikan bahwa kawasan Asia Pasifik akan membutuhkan 244.000 pilot komersial baru, atau 38 persen dari 645.000 pilot komersial yang akan dibutuhkan secara global.
 
Untuk rincian secara regional, China sekitar 124.000 pilot, kawasan Asia Tenggara sekitar 49.000 pilot, kawasan Asia Selatan sekitar 41.000 pilot, kawasan Asia Timur Laut sekitar 19.000 pilot, dan Oseania 11.000 pilot.
 
Kawasan Asia Pasifik juga diperkirakan akan memimpin permintaan global untuk teknisi pemeliharaan (249.000 orang atau 39 persen dari permintaan global) dan awak kabin (323.000 orang, atau 37 persen dari permintaan global), dengan Tiongkok memimpin permintaan untuk keduanya (124.000 teknisi pemeliharaan dan 150.000 kru kabin).
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif