Teropong Zeiss di Observatorium Bosscha. Foto: Humas ITB
Teropong Zeiss di Observatorium Bosscha. Foto: Humas ITB

Kolokium Bersama Peneliti NASA di ITB

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 17 Oktober 2019 22:14
Bandung: Peneliti NASA, Hakeem Oluseyi mengisi kolokium “Hacking the Stars and Dark Matter” di Convention Hall Gedung Centre of Advance Science (CAS), Institut Teknologi Bandung (ITB). Kolokiumini diselenggarakan oleh KK Astronomi ITB bekerja sama dengan United State Embassy Jakarta dan American Corner.
 
Oluseyimemulai kolokium dengan gambaran singkat bagaimana sejarah pembentukan galaksi mempengaruhi properti dari sub struktur galaksi itu sendiri. Kemudian dari situ diharapkan dapat diketahui struktur galaksi dari pemetaan potensial galaksi dengan kinematika stream pada halo galaksi.
 
Profesor pada bidang Physics and Space Sciences di Florida Institute of Technology ini juga menjelaskan, mengapa matahari dapat melontarkan massanya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Selain itu juga juga menjelaskan bagaimana para astronom memahami keberadaan dark matter dari fenomena bullet nebula.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Jika dua galaksi melewati satu sama lain, kemudian gas di antara keduanya tertahan atau berhenti kemudian dari gravitational lensing kita dapat mengetahui keberadaan sesuatu yang secara pengamatan tidak teramati rupanya namun memiliki potensial gravitasi yang tergambar dari distribusi potensial gravitasi, yang hari ini disebut sebagai dark matter,” jelas Oluseyi dalam siaran pers ITB, Bandung, Kamis, 17 Oktober 2019.
 
Oluseyijuga bercerita, bahwa ia mempelajari bintang untuk mengembangkan teknologi yang dapat digunakan untuk mempelajari bintang untuk memahami pembentukan galaksi. Dengan begitu dapat mengetahui bagaimana alam semesta terbentuk dan berkembang.
 
Sebagai seorang peneliti NASA dan profesor, nama Oluseyicukup terkenal. Dia terkenal karena memiliki banyak keahlian dalam berbagai bidang, seperti Solar/Plasma Physics, Space Mission and Technology, Computation Modelling, Machine Learning, Ion Propulsion, hingga Science Education.
 
Sementara itu, ITB merupakan perguruan tinggi satu-satunya di Indonesia yang memiliki Program Studi Astronomi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Selain itu, ITB juga memiliki Observatorium Bosscha yang menjadi pusat penelitian, pendidikan, dan pengembangan ilmu Astronomi di Indonesia.
 
Hingga saat ini, Observatorium Bosscha merupakan observatorium tertua dan terbesar di Asia Tenggara. Kegiatan pengamatan dan penelitian benda-benda langit sudah dilakukan Observatorium Bosscha sejak didirikan pada tahun 1923.
 
Di momen tertentu, seperti pada peringatan 50 tahun pendaratan manusia di bulan, Juli 2019 lalu, Observatorium Bosscha turut mengundang masyarakat untuk melakukan pengamatan benda langit bersama para peneliti di Bosscha.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif