Ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik DPP Partai NasDem, Willy Aditya, Foto/Dok. Pribadi.
Ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik DPP Partai NasDem, Willy Aditya, Foto/Dok. Pribadi.

Mahasiswa Makin Jauh dari 'Parlemen Jalanan'

Pendidikan Demo Massa Penolak Pemilu
Intan Yunelia • 24 Mei 2019 08:49
Jakarta: Era demokrasi terbuka memberikan banyak ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi dan kritik mereka kepada pemerintah. Demokrasi yang memberikan ruang kritik ketimbang harus menyampaikan aspirasi di jalanan.
 
“Dalam rezim otoritarian memang gerakan mahasiswa melakukan aksi protes bahkan memartirkan diri, untuk membuka selubung kesadaran demokrasi semu dan represifitas rezim. Itu adalah tugas sejarah dari angkatan mereka," jelas Mantan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Willy Aditya saat ditemui Medcom.id di kantor DPP Partai NasDem, Jalan R.P. Soeroso, Gondangdia, Jakarta Pusat, Kamis Malam, 23 Mei 2019.
 
Contoh terdekat, demonstrasi aksi 22 Mei yang memprotes hasil penetapan pemenang Pemilu 2019. Mahasiswa yang semestinya menjadi penggerak tak banyak berpartisipasi di aksi tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Demokrasi terbuka saat ini buah perjalanan panjang para mahasiwa. Rezim yang demokratis adalah anak kandung perjuangan gerakan mahasiwa.
 
Parlemen jalanan, seperti aksi turun ke jalan tidak lagi populer. Banyak saluran-saluran yang disediakan dalam sistem demokrasi terbuka saat ini.
 
"Parlemen jalanan tidak lagi populer, karena ruang parlemen dan parpol terbuka dan banyak di antara mereka yang menjadi caleg berkontestasi secara langsung," jelas Willy.
 
Baca:Cara Mahasiswa Menyalurkan Aspirasi Telah Berubah
 
Berbeda halnya di era orde baru. Kebebasan berpendapat dibungkam, ruang berekspresi ditutup, pemerintahan otoriter membuat mahasiswa bergolak tak tinggal diam bertahan dengan keadaan saat itu. Sehingga pecah reformasi 1998 dan tumbangnya Soeharto.
 
“Mahasiswa 98 itu turun ke jalan karena krisis. Kalau sekarang tidak ada krisis politik dan ekonominya. Karena mekanisme demokrasinya itu pemilu berjalan secara terbuka,” ujar Willy yang saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik DPP Partai NasDem ini.
 
Era berubah. Ruang penyampaian aspirasi tersedia di berbagai media. Kebebasan pers, berpendapat sangat dijunjung tinggi.
 
Aksi-aksi turun ke jalan perlahan tidak populer lagi. Terlebih aksi yang menimbulkan kericuhan.
 
"Kalau sekarang pemerintahannya demokratis tidak seperti zaman orde baru yang otoritarian. Jadi aksi-aksi gerakan mahasiswa tidak hanya menjadi alternatif parlemen jalanan untuk memartirkan diri melawan kekuasaan. Mereka bisa langsung terkoneksi dengan institusi politik dan civil society organization," pungkasnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif