Kampus UI. Foto/Dok. UI.
Kampus UI. Foto/Dok. UI.

Pakar UI: PSBB Ketat Efektif Turunkan Risiko Penularan Covid-19

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 28 September 2020 18:02
Jakarta: Berdasarkandata terakhir pada kurva epidemi berdasarkan onset hingga 24 September 2020, situasi pandemi covid-19 di Indonesia masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Bahkan gelombang pertama masih terus berlangsung dan belum selesai.
 
Dosen Departemen Biostatistika dan Kependudukan FKM Universitas Indonesia (UI),dr. Iwan Ariawan, MSPH menjelaskan, cara paling tepat untuk mengendalikan kondisi saat ini adalah dengan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang lebih ketat. PSBB ketat mampu menurunkan risiko penularan covid-19 hingga 50 persen.
 
Pada saat Jakarta berada pada kondisi PSBB transisi, kasus covid-19 kembali naik. Hal ini disebabkan oleh perbedaan aktivitas penduduk yang dilakukan saat PSBB ketat dan PSBB transisi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dengan PSBB ketat tentu dapat mengendalikan kasus covid-19 yang ada di Jakarta meski tetap menunjukkan kasus baru per harinya,” ujar Iwan dalam seminar bertajuk “Belum Terkendalinya Wabah Covid-19 dan Apa yang Harus Dilakukan?”, Senin, 28 September 2020.
 
Baca juga:UGM Kembangkan Sistem Deteksi, Mampu Prediksi Gempa 3 Hari Sebelumnya
 
Iwan juga menguraikan, bahwa PSBB dapat berdampak dan bermanfaat apabila perilaku 3M (mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan menjaga jarak), dan TLI (Tes, Lacak, dan Isolasi) senantiasa dilakukan. Berdasarkan penelitian, perilaku 3M terbukti dapat mencegah dan menurunkan risiko hingga di atas 50 persen, dengan catatan, perilaku 3M dilakukan dengan ketentuan dan berdasarkan pedoman yang benar.
 
"Sementara itu, tindakan TLI atau Tes, Lacak, dan Isolasi dapat bermanfaat jika dilakukan tak hanya mengejar banyaknya jumlah tes, tetapi dengan memperhatikan cara yang benar dan tepat sasaran,” kata Iwan.
 
Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI,Prof. dr. Ascobat Gani, MPH, Dr. PHjuga mengatakan bahwa kondisi pandemi covid-19 di Indonesia masih belum terkendali. “Strategi umum yang dapat dilakukan dalam menghadapi kondisi pandemi seperti saat ini adalah dengan melakukan 3T, yaitu Testing, Tracing, dan Treatment.
 
"Namun, pendekatan strategi lain yang tak boleh ditinggalkan adalah dengan melakukan strategi prevent, di antaranya dengan melakukan pencegahan melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Germas, Jaga Jarak, hingga pelaksanaan karantina,” ujar Ascobat.
 
Lebih lanjut, Ascobat menyebutkan bahwa dari hasil testing yang dilakukan, maka positivity rate Indonesia berada pada angka 14,3 persen, yang artinya setiap kerumunan sekitar 100 orang terdapat sekitar 15 orang yang dapat menularkan virus.
 
“Namun, pelaksanaan testing atau surveilans harian sebagai proses deteksi di Indonesia juga masih mengalami masalah. Testing di Indonesia ada pada angka lebih kurang 21 ribu orang rata-rata per harinya atau 165 ribu per minggunya, sedangkan jika melihat dari rekomendasi WHO adalah pada angka 267 ribu orang per minggunya,” ujar Ascobat.
 
Tak hanya berbicara mengenai kapasitas sistem kesehatan, Ascobat menjelaskan bahwa penduduk maupun pemerintah memiliki hak dan kewajiban masing-masing pada situasi pandemi saat ini. Penduduk berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan kewajiban memelihara kesehatan dan kesehatan lingkungan.
 
Di sisi lain, pemerintah berhak untuk membuat dan melakukan penegakan peraturan tersebut, dengan tidak lupa berkewajiban untuk memperhatikan kesehatan masyarakat. Kemudian mengendalikan wabah serta memberikan bantuan sosial akibat kebijakan dalam rangka mencegah penyebaran penyakit di saat pandemi covid-19 ini.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif