Anak di Lingkaran Radikalisme

Anak di Lingkaran Keluarga Teroris harus Jadi Perhatian Negara

Intan Yunelia 14 Mei 2018 13:44 WIB
Teror Bom di Surabaya
Anak di Lingkaran Keluarga Teroris harus Jadi Perhatian Negara
Presiden Joko Widodo saat meninjau gereja yang menjadi sasaran teror bom di Surabaya. Foto: Biro Pers Istana

Jakarta:Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dan Panti Sosial Asuhan Anak (LKSA PSAA) meminta negara hadir dan mengantisipasi agar anak-anak Indonesia tidak terpapar paham radikalisme.  Terutama anak-anak yang berada di lingkaran keluarga teroris, harus menjadi perhatian Negara

Forum Nasional LKSA PSAA mengecam keras pelibatan anak-anak dalam aksi teror. Apalagi anak-anak telah menjadi tumbal dalam aksi bom bunuh diri.


“Menjadi tanggung jawab kita semua mencegah anak anak menjadi korban, martir ataupun pengantin bom,” kata Ketua Umum Forum Nasional LKSA PSAA, Yanto Mulya Pibiwanto di pesan tertulisnya, Senin 14 Mei 2018.

Menurut Yanto, anak-anak tak semestinya dilibatkan dalam lingkaran paham radikalisme. Apalagi menempatkan mereka dalam situasi berbahaya dan aksi teror.

“Menjadi tanggung jawab kita untuk melindungi dan memberi tempat yang lebih layak bagi mereka. Apalagi menempatkan anak-anak dalam situasi berbahaya, yang bahkan mereka tidak pernah tahu risikonya,” ucap Yanto.

Yanto meminta negara hadir dan mengantisipasi agar anak-anak ini tidak terpapar paham radikalisme. Apalagi sampai dikorbankan menjadi tumbal aksi keji.

“Begitu juga anak anak di sekitar peristiwa ledakan bom tersebut dan anak anak yang berada di lingkaran keluarga teroris harus menjadi perhatian Negara,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kapolri Jendral Tito Karnavian mengatakan polisi mengidentifikasi terduga pelaku peledakan bom di Surabaya, Jawa Timur. Diduga kuat, pelaku berasal dari satu keluarga.

Sebelum melakukan aksi bom bunuh diri, lanjut Tito, Dita terlebih dahulu mengantar istrinya bernama Puji Kuswati, dan kedua orang putrinya bernama Fadila Sari (12) dan Vamela Riskika (9) ke GKI di Jalan Diponegoro.

"Setelah mengedrop istri dan kedua putrinya, bom sudah posisi dililitkan di bagian perut dan dada kedua putrinya. Dan kemudian meledakkan diri," ujarnya.

Kemudian pelaku bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, dilakukan oleh dua orang laki-laki yang merupakan putra dari Dita dan Puji. Keduanya bernama Yusuf Fadil (18) dan Firman Halim (16).

"Keduanya melakukan bom bunuh diri dengan mengendarai sepeda motor masuk ke area gereja. Jadi semua adalah serangan bom bunuh diri, cuma jenis bomnya saja berbeda," kata Tito.
 



(CEU)