Pakar Pendidikan dari Global Tertiry Education, Jamil Salmi (kanan) dan  Plt. Dirjen Dikti, Nizam (kiri). Foto: Medcom.id/Ilham Pratama
Pakar Pendidikan dari Global Tertiry Education, Jamil Salmi (kanan) dan Plt. Dirjen Dikti, Nizam (kiri). Foto: Medcom.id/Ilham Pratama

Persiapkan Diri, Profesi Baru Terus Bermunculan

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Ilham Pratama Putra • 06 Februari 2020 19:01
Jakarta:Pakar Pendidikan dari Global Tertiry Education, Jamil Salmi tak menyangka ada beberapa profesi baru yang muncul guna mendukung teknologi masa kini. Padahal 10 tahun lalu dia sama sekali tak mengenal bidang dan profesi tersebut.
 
"Di antaranya manager social media, youtube content creator, big data analyst, drone operator hingga digital risk manager," kata Jamil di Gedung Kemendikbud, Kamis 6 Februari 2020.
 
Atas tinjauan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menganggap tidak ada yang bisa menentukan masa depan. Bahkan, Kemendikbud meminta masyarakat untuk mampu menciptakan masa depan sendiri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tidak ada orang yang bisa memprediksi hari esok. Oleh karena itu langkah yang paling baik menciptakan hari esok. Kalau kita menciptakan masa depan, maka kita akan bisa memprediksi itu," kata Plt. Dirjen Dikti, Nizam usai diskusi dengan Jamil.
 
Pengembangan yang dilakukan secara mandiri, membuat masyarakat akan lebih mampu menghadapi perubahan yang besar di masa datang. Lebih lanjut, Nizam juga berpikiran sama dengan Jamil.
 
Nizam juga sependapat soal pekerjaan baru yang terus bermunculan. "Pekerjaan baru muncul. Pekerjaan dulu yang kita merasa aman sekarang hilang, sudah ketar-ketir masa depan perbankan," ungkapnya.
 
Untuk itu Nizam meminta mahasiswa untuk memanfaatkan waktu lebih banyak di luar ruang kelas. Sebagaimana sejalan dengan konsep Kampus Merdeka.
 
"Ruang-ruang itu mesti kita buka lebih kuas. Learning space, tempat kita memperoleh ilmu, memperoleh kompetensi menyiapkan masa depan ada dimana-mana. Ada di co-working space, coffeshop, ada di ruang virtual, desa, ada di ketika aktivitas sosial," jelasnya.
 
Menurutnya hal itu menjadi bagian learning space. "Di mana ruang tersebut menyediakan tempat bagi anak dan cucu kita bisa menghadapi masa depan yang tidak pasti," tandasnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif