Presentasi Ramadhani Eka Putra dari  SITH ITB. Foto: ITB/Humas.
Presentasi Ramadhani Eka Putra dari SITH ITB. Foto: ITB/Humas.

ITB Ajak Pesantren Kembangkan Teknologi Pertanian Terpadu

Pendidikan pertanian pesantren Perguruan Tinggi ITB
Arga sumantri • 13 Mei 2021 09:08
Bandung: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPPM ITB) mengajak pesantren untuk mengembangkan teknologi pertanian terpadu.  A. Zainal Abidin dari FTI ITB mengatakan, sistem Manajemen Sampah Zero (Masaro) diharapkan bisa diimplementasikan untuk pertanian berbasis pesantren
 
Sistem tersebut mengolah kelompok sampah residu, daur ulang, dan membusuk menjadi produk-produk berharga. "Masaro menyelesaikan permasalahan semua jenis sampah menjadi zero," ujar Zainal mengutip laman ITB, Kamis, 13 Mei 2021.
 
Ia menjelaskan, sampah residu diolah dalam tungku bakar untuk menghasilkan produk olahan abu untuk media tanam, pengawet kayu anti rayap, serta pestisida organik. Sementara itu, sampah daur ulang lebih baik diserahkan ke pengepul atau langsung ke industri daur ulang. Terakhir, sampah membusuk perlu dicacah dan difermentasi menggunakan katalis Masaro. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Satu kilogram sampah membusuk dapat diproses menjadi 12 liter Konsentrat Organik Cair Istimewa (KOCI) atau Pupuk Organik Cair Istimewa (POCI)," jelas Zainal.
 
Baca: 2022, Startup Digital Bakal Jadi Mata Kuliah Wajib
 
Zainal berharap gerakan Masaro dapat menyelesaikan permasalahan sampah, menjaga kebersihan lingkungan, membangun ketahanan pangan, dan memberi bekal pendidikan kewirausahaan untuk para santri. "Gerakan ini dapat menjadikan pesantren sebagai agent of change dan agent of propagation untuk umat, bangsa, dan negara," ungkapnya.
 
Perwakilan SITH ITB Ramadhani Eka Putra mengungkapkan pentingnya memiliki rencana menghadapi ledakan jumlah penduduk dunia pada 2050. Lewat disiplin ilmu rekayasa pertanian, ia dan tim mengembangkan Black Soldier Fly (BSF) untuk mengatasinya.
 
Menurut Ramadhani, lalat jenis tersebut dapat diaplikasikan pada pesantren karena mampu mencerna sekaligus mengurangi massa limbah organik sebanyak 35-45 persen dan memiliki kandungan protein prepupa sebanyak 44 persen.
 
"BSF unggul karena dapat mengolah segala jenis sampah, menjadi pakan ternak, bagus untuk kompos, serta mengendalikan lalat-lalat lain yang sifatnya merugikan," kata Ramadhani.
 
Baca: Perguruan Tinggi Diharapkan Segera Siapkan Program Akademik Halal
 
Ramdhani juga menjelaskan hasil riset yang telah ia lakukan untuk pemanfaatan BSF. Sampah dan limbah organik dari komunitas perlu didekomposisi oleh larva BSG dalam bioreaktor yang kemudian biomassanya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, akuakultur, dan tanaman pertanian.
 
"Residunya juga diolah sebagai pupuk yang hasilnya dapat kembali dimanfaatkan oleh komunitas," ujar Ramadhani.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif