Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Butuh Tim Mediasi, Kampus dan Industri Masih Sering 'Berkonflik'

Pendidikan inovasi Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian Forum Rektor Indonesia
Ilham Pratama Putra • 12 November 2020 15:17
Jakarta: Proses 'perkawinan' antara perguruan tinggi dengan industri yang saat ini tengah didorong pemerintah belum sepenuhnya berjalan. Salah satunya karena masih ditemukannya konflik di antara keduanya dalam proses membangun ekosistem dan iklim inovasi bersama.
 
Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI), Arif Satria mengatakan, konflik antara perguruan tinggi dengan industri tersebut harus segera diselesaikan. Pemerintah diminta turun tangan dengan membentuk tim khusus menangani berbagai konflik antara kampus dengan industri.
 
"Iya (perlu ada tim mediasi) dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dan ada dewan mediator yang bisa mediasi," kata Arif di gedung Kemenko Pembangunan Manusia Kebudayaan (PMK), Jakarta, Kamis, 12 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga:Bangun Ekosistem Inovasi, Kampus Perlu Miliki Science Techno Park
 
Menurut Arif, saat ini kampus dan industri belum bisa menyatu sepenuhnya. Hal ini tak lepas dari munculnya banyak perbedaan prespektif inovasi di antara keduanya.
 
Dalam konflik itu misalnya, kerap terdengar jika inovator merasa satu produk inovasi yang dibuat telah cukup, namun industri masih merasa belum puas. Parahnya, adapula industri nakal yang hanya ingin membeli produk, padahal tujuan berinovasi adalah melakukan kolaborasi.
 
"Jadi ini perlu ada mediasi. Saya mengusulkan pada pemerintah agar di salah satu ekosistem inovasi nasional itu ada lembaga inovasi yang secara nasional memediasi konflik antara kampus dengan industri," tambah Arif.
 
Baca juga:FRI: Buruknya Infrastruktur Hambat Ekosistem Berinovasi di Kampus
 
Apalagi, ke depan kampus akan membuka Science Techno Park (STP) untuk berinovasi. Dengan begitu akan semakin banyak inovasi kampus yang harus dihilirisasi kepada industri.
 
"Sehingga akan terjadi masalah-masalah di industri, misal masalah royalti, dan itu perlu mediator," sambungnya.
 
Karena melibatkan dua kementerian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek/BRIN) maka tim yang dibangun juga harus dikoordinasikan secara lintas kementerian. Dia pun sempat menyinggung program matching fund Kemendikbud yang melibatkan kampus dan industri.
 
"Nah matching fund ini sudah bagus membangun hubungan. Tapi kan ini ada soal dana dan pemanfaatan inovasi. Tapi pada saat yang sama, perlu ada mediator ketika ada konflik. Jadi tim ini sekaligus mengawasi, kontrol, audit dan monitor evaluasi (monev)," jelas Arif.
 
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengajak para inovator memberikan sumbangsih bagi kemajuan bangsa dan negara. Menurutnya, talenta inovator dan peneliti yang mumpuni bisa memberi kontribusi bagi kemanusiaan dan kehidupan yang lebih baik di Indonesia.
 
"Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi inovator di berbagai sektor yang sangat dibutuhkan masyarakat seperti pangan, energi, kesehatan, termasuk inovasi dalam manajemen, model bisnis, dan digitalpreneur," kata Jokowi dalam Pembukaan Inovasi Indonesia Expo 2020, Artificial Intelligence Summit 2020 dan Pemberian Anugerah Inovasi, Selasa 10 November 2020.
 
Namun Jokowi menyadari, inovasi tak muncul begitu saja. Dalam menciptakan inovasi dibutuhkan pula ekosistem yang kondusif, agar inovator dan hasil inovasi terus bermunculan.
 
"Maka kita harus terus memfasilitasi kerja sama antarstakeholder memperkuat multiple helix memperkuat kolaborasi antara para inovator dengan industri dengan pemerintah dan masyarakat," ungkapnya.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif