USBN 2017 - 2018

Tahun Ini, Mata Pelajaran untuk Ujian Sekolah Lebih Sedikit

Husen Miftahudin 11 Januari 2018 11:42 WIB
ujian nasional
Tahun Ini, Mata Pelajaran untuk Ujian Sekolah Lebih Sedikit
Sejumlah siswa SMA mengikuti simulasi uji coba Ujian Nasional secara online, Ant - Reno Esnir
Jakarta:Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) untuk level SMP hingga SMA/sederajat. Artinya, pada tahun ajaran 2017/2018, siswa tak lagi melaksanakan ujian sekolah.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad mengatakan, untuk tingkat SMP, hanya tiga mata pelajaran yang diujikan di USBN. Yaitu Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Kewarganegaraan, serta Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).


Sementara untuk SMA, katanya, enam mata pelajaran diujikan di USBN. Yaitu Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Biografi/Geografi/Antropologi, Sejarah, Pendidikan Kewarganegaraan, Kimia/Sosiologi/bahasa asing, dan Fisika/Ekonomi/Sastra Indonesia.

Untuk SMK, tiga mata pelajaran yang diujikan yaitu Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Kewarganegaraan, serta Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi.

"Karena USBN, artinya tak ada lagi pelaksanaan ujian sekolah. Sebagai penentu kelulusan dan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya," terang Hamid ditemui di Jakarta, Rabu, 10 Januari 2018.

Hamid menerangkan beda USBN dengan US. USBN menguji mata pelajaran yang lebih sedikit ketimbang US. Tahun lalu, US mengujikan 7 mata pelajaran untuk SMP, 8 mata pelajaran untuk SMA, dan 10 mata pelajaran untuk SMK.

USBN menggunakan standar nasional. Penyiapan naskah soalnya melibatkan pusat dan konsolidasi guru. Sebanyak 25 persen soal disiapkan pusat sebagai soal utama. Sedangkan sisanya disiapkan konsolidasi guru di Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Komposisi soal terdiri dari 90 persen pilihan ganda dan 10 persen esai. Tahun lalu, masih ada ujian yang menggunakan media kertas. Tapi tahun ini, media ujiannya bisa saja hanya kertas maupun kombinasi kertas dan komputer.

Alur penyusunan soal yaitu guru dari berbagai sekolah menyusun soal. Lalu mereka mengonsolidasikan itu di MGMP. Di MGMP, soal-soal disusun kembali dengan memasukkan soal yang disediakan pemerintah pusat. Kemudian paket soal disebar ke sekolah.

"Penyusunan soal di tingkat MGMP di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota. Standar dan kisi-kisi ditetapkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)," ungkap Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Totok Suprayitno.



(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id