Wakil Direktur Education Research Institut (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Budi Wiweko. Medcom.id/Intan Yunelia.
Wakil Direktur Education Research Institut (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Budi Wiweko. Medcom.id/Intan Yunelia.

Kesenjangan Penelitian dan Komersialisasi Hambat Perkembangan Riset

Pendidikan Riset dan Penelitian
Intan Yunelia • 15 Agustus 2019 20:42
Jakarta: Dunia riset di Indonesia masih diwarnai kesenjangan atau gap antara penelitian transnasional dengan ranah terapan atau komersialisasi. Kondisi ini menyebabkan keberlanjutan dan perkembangan riset di Indonesia terhambat.
 
Berdasarkandata Kementerian Hukum dan HAM, sebenarnya Indonesia sudah sering melakukan riset. Sampai dengan 2017 tercatat 34.000 riset yang telah mendapatkan hak paten, namun tidak ada unit kerja yang bertindak sebagai fasilitator untuk membuka peluang riset masuk ke ranah komersial.
 
"Oleh karena itu, Indonesia saat ini sangat membutuhkan adanya Technology Transfer Office (TTO) agar riset di Indonesia maju dan tak hanya masuk kotak," kataWakil Direktur Education Research Institut (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Budi Wiweko saat acara seminar ‘Technology Transfer Office (TTO) Kunci Utama agar Riset Indonesia Tak Masuk Kotak’ di Hongkong Café, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 15 Agustus 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Budi, peran TTO sangat penting sebagai corong komunikasi, endorser, perencanaan gambaran bisnis, bahkan negosiator untuk membawa hasil penelitian ke ranah komersial atau terapan. Pihak yang terlibat dalam TTO wajib memiliki etos kerja, kejelian yang tinggi dan kemampuan untuk membaca serta menerjemahkan kebutuhan pasar sesuai terminologi Demand Readiness Level (DRL).
 
"Sebagai gambaran, di berbagai negara maju, kolaborasi pemerintah, dunia pendidikan dan industri sudah menjadi hal yang biasa dalam hal memajukan riset mereka," terang Budi.
 
Baca:Menkominfo Berharap Perguruan Tinggi Jadi Pionir Transformasi IT
 
Ia menambahkan, Universitas terkemuka di seluruh dunia sudah sejak lama menaruh perhatian besar pada pengembangam TTO. Misalnya, Association University Technology Managers (AUTM), organisasi koordinator semua TTO yang terdapat di Amerika Serikat.
 
Organisasi ini sejak 1996 sampai 2015 telah berhasil mendorong 380.000 invensi dengan 20 persen atau 80.000 di antaranya telah mendapatkan paten. "Lalu bagaimana dengan di Indonesia?," kata Budi.
 
Untuk itu, kata Budi, penelitian harus diasah, didorong dan difasilitasi pemerintah, akademisi, industri dan dibutuhkan komunikasi intensif, kondusif, serta interaktif untuk membuka peluang prototipe penelitian masuk ke ranah komersialisasi.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif