Para pemateri di acara The First Indonesia-Australia Interfaith Dialogue (IAID) di Bandung, Maranatha/Humas.
Para pemateri di acara The First Indonesia-Australia Interfaith Dialogue (IAID) di Bandung, Maranatha/Humas.

Dialog Keagamaan, Saling Belajar untuk Keharmonisan Bangsa

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 15 Maret 2019 19:53
Bandung: Dialog lintas agama Indonesia-Australia untuk pertama kalinya diadakan dalam perhelatan The First Indonesia-Australia Interfaith Dialogue (IAID) di Bandung, 13-14 Maret 2019. Dialog bertemakan “Sharing Experiences and Best Practice” ini diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, bekerja sama dengan Universitas Kristen Maranatha.
 
"Dialog dilakukan untuk mencari kesamaan di antara kita dan belajar bagaimana menciptakan masyarakat yang lebih toleran dan mengedepankan keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara. Itu kunci untuk semua negara bisa terus menumbuh-kembangkan pembangunan di negara masing-masing," kata Direktur JenderalInformasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri,?Cecep Herawan di Bandung, Jumat 15 Maret 2019.
 
Gary Quinlan, Duta Besar Australia untuk Indonesia yang turut hadir dalam seluruh rangkaian
acara mengatakan ingin mengetahui apa yang generasi muda rasakan mengenai keagamaan,
demokrasi, dan masa depan negara mereka sendiri. "Hal itu dapat menjadi pembelajaran bagi kedua negara untuk menyikapi apa yang terjadi di negaranya masing-masing," terang Gary.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Forum dialog juga membahas isu-isu yang tengah menjadi perhatian kedua negara, antara lain tentang “Democracy, Religion, and Pluralism”; “Freedom of Expression: Spreading Peaceful Messages and Combatting Misuse of Media”; dan “Addressing the problems: Strengthening Cooperation and Advocating Policy towards Inclusive Society”.
 
Baca:UK Maranatha Berdayakan Masyarakat di DAS Citarum
 
Pembicara yang mewakili Indonesia dalam forum ini adalah Dr. Pradana Boy (Wakil Staf Khusus Presiden untuk Isu Keagamaan Internasional), Dr. Ahmad Munjid (Peneliti Senior pada Center for Security and Peace Studies), Zulfiani Lubis (Pemimpin Redaksi IDN Times), Dr. Saefudin Syafi’i (Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama – Kementerian Agama), dan K.S. Arsana (Ketua Prajaniti Hindu Indonesia).
 
Pembicara delegasi dari Australia adalah Pendeta Samuel Green (Ketua Bidang Hubungan Lintas Agama pada Gereja Anglikan Australia), Umesh Chandra (Tokoh Hindu pada Universitas Queensland) dan Elizabeth Vaag (Biarawati). Mewakili Universitas Kristen Maranatha, Pdt. Obertina Modesta Johanis, M.Th. (Cand.), dan Drs. Robert Oloan Rajagukguk, M.A., Ph.D. hadir sebagai moderator.
 
Sejak Indonesia berdiri hingga kini, Pancasila telah menjadi pelindung bangsa dari potensi
perpecahan sebagai konsekuensi keberagaman. Dialog antar-umat beragama perlu dilakukan dalam berbagai ranah dan bentuk. Perguruan tinggi memainkan peran penting dalam mengupayakan interfaith dialogue.
 
"Kerja sama Indonesia dan Australia dapat menjadi forum saling belajar dalam meningkatkan
efektivitas dari interfaith dialogue yang dilakukan oleh kedua negara”, ungkap Robert Oloan menyimpulkan sesi dialog yang dipimpinnya.
 
Perguruan tinggi perlu menciptakan semangat inklusivisme sebagai prioritas dalam relasi antara pribadi maupun antargolongan. "Lulusan perguruan tinggi yang punya semangat inklusif, kepekaan budaya, dan solusi inovatif dalam menghadapi perbedaan keyakinan, akan menjadi agen perubahan dalam menjaga kerukunan antarumat beragama," kata Robert.
 
Baca:OSC Bantu Maranatha Temukan Calon Mahasiswa Berkualitas
 
Menggarisbawahi paparan dari Dr. Pradana Boy, Pdt. Obertina manyampaikan, bahwa Indonesia
adalah negara yang sangat besar dengan berbagai keragaman budaya, bahasa, suku, dan agama. “Semua keragaman itu dapat tetap terjaga karena ada Pancasila sebagai filosofi hidup bersama. Indonesia akan tetap bertahan seperti itu meskipun ada usaha-usaha untuk mengubahnya, jika rakyat masih melihat Indonesia yang beragam sebagai sebuah imagine community, masyarakat yang diidam-idamkan”, papar Obertina.
 
Rektor Universitas Kristen Maranatha, Prof. Ir. Armein Z. R. Langi, M.Sc., Ph.D. dalam
sambutannya sebagai tuan rumah rangkaian acara kuliah umum dan pemutaran film di kampus
Maranatha menyatakan, melalui kegiatan ini dapat semakin terbuka pikiran akan
adanya pluralisme di dunia. "Sekaligus menambah pengetahuan secara spiritual, dan tentu saja diharapkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata," tutup Armein.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif