Siswa jurusan Teknik Las melakukan praktikum pengelasan plat besi di SMK N 1 Sayung di Demak, Jawa Tengah, ANT/Aji Styawan.
Siswa jurusan Teknik Las melakukan praktikum pengelasan plat besi di SMK N 1 Sayung di Demak, Jawa Tengah, ANT/Aji Styawan.

Kemendikbud Ajak Diskusi Perusahaan Pengguna Lulusan SMK

Pendidikan Pendidikan Vokasi
Daviq Umar Al Faruq • 28 Desember 2018 11:45
Malang: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kini tengah mengumpulkan sejumlah perusahaan pengguna lulusan SMK untuk mengetahui harapan mereka. Perusahaan tersebut diajak berdiskusi tentang seperti apa lulusan SMK yang dibutuhkan oleh dunia industri.
 
"Kurikulumnya juga seperti apa, kita ajak bersama-sama untuk duduk menyusun kurikulum termasuk memfasilitasi berbagai macam alat-alat praktek yang diperlukan kalau seandainya nanti dia (lulusan SMK) bekerja," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, di Malang, Kamis 27 Desember 2018.
 
Kemudian, perusahaan nanti akan memberikan sertifikat rekognisi, bahwa lulusan SMK itu sudah memiliki kemampuan standar seperti yang dikehendaki oleh industri pada umumnya. "Jadi walaupun dia (lulusan SMK) nanti tidak bekerja di tempat industri yang bekerja sama dengan SMK itu, tetapi paling tidak standar kemampuan dia sudah diketahui. Sehingga orang menerima dia sebagai tenaga lulusan tidak akan ragu," tuturnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca:Mendikbud Ubah Strategi Penataan SMK
 
Mantan Rektor UMM ini menambahkan, kurikulum SMK sebanyak 60-70 persennya juga akan ditentukan oleh perusahaan dan industri. Kemudian perusahaan dan industri tersebut bisa memberikan semacam sertifikasi kepada lulusan SMK.
 
"Insya Allah 3-4 tahun yang akan datang kita usahakan betul-betul SMK itu demand side jadi memang kita memproduk sesuai dengan kebutuhan dunia kerja," terang Muhadjir.
 
Sebelumnya, Muhadjir menjelaskan, selama ini pembangunan SMK di Indonesia menggunakan pendekatan supply drive atau supply side. Sehingga pemerintah tidak bisa mengetahui lulusan SMK bakal dipekerjakan di perusahaan mana. Kondisi ini bisa membuat SMK berpotensi melahirkan pengangguran baru.
 
"Strategi yang kita ubah adalah kalau selama ini SMK kita bangun menggunakan pendekatan yang namanya supply drive atau supply side, sekarang kita balik demand drive atau demand side. Jadi kita undang para pengguna tenaga kerja SMK dan kita tanya dia mau apa," ujarnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif