Siswa-siswi SMPK Penabur Jakarta dalam sebuah pertunjukan bertajuk ‘Citraloka Nusantara’. Foto: SMPK Penabur/humas
Siswa-siswi SMPK Penabur Jakarta dalam sebuah pertunjukan bertajuk ‘Citraloka Nusantara’. Foto: SMPK Penabur/humas

Ratusan Siswa 'Usir Penjajah' di Jakarta Utara

Pendidikan Prestasi Pelajar
Yurike Budiman • 10 Februari 2020 21:46
Jakarta: Sebanyak 554 siswa dari 20 SMPK Penabur Jakarta "mengusir penjajah" dengan menampilkan pertunjukan seni bertajuk 'Citraloka Nusantara' di Penabur Kelapa Gading, Jakarta Utara.
 
Pertunjukan seni ini digelar guna meningkatkan rasa cinta Tanah Air kepada para peserta didik sejak usia remaja. Pasalnya, para siswa kini tengah memasuki era digital yang merupakan pintu masuknya berbagai informasi tanpa batas.
 
Hal ini dapat juga menjadi pintu masuk berbagai kebudayaan asing ke kalangan remaja.Ester Junianti, Ketua Panitia Pertunjukan Citraloka Nusantara mengatakan, platform online yang diterima oleh para remaja tersebut tidak banyak yang menampilkan kebudayaan Indonesia, sehingga mereka kesulitan mengenal kebudayaan bangsa sendiri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami menampilkan kebudayaan dan kisah-kisah perjuangan para pahlawan di Indonesia, yang saling bekerja sama untuk memerdekakan negara ini. Diharapkan hal tersebut dapat diterapkan kepada para peserta didik kita, yang saling bekerja sama menampilkan sebuah pertunjukan seni," kata Ester dalam siaran persnya, Senin, 10 Februari 2020.
 
Sementara, Ketua BPK Penabur Jakarta, Antono Yuwono mengatakan, pertunjukan seni juga dilakukan untuk menghadapi era digital 4.0. "Kami mempersiapkan peserta didik kami untuk lebih siap menghadapi era 4.0," kata Antono.
 
Menurutnya, generasi muda harus sanggup menghadapi perubahan yang cepat. Untuk itu, pihaknya mempersiapkan peserta didik agar pandai secara akademik maupun nonakademik.
 
Kemampuan nonakademik seperti kegiatan seni, menurut Antono, merupakan hal penting yang mampu menembus zaman. "Kita tahu di masa ini yang bisa digantikan mesin adalah hal-hal yang bisa diduplikasi, sementara kegiatan seni itu tidak bisa diduplikasi," katanya.
 
Pertunjukan seni ini mengangkat kisah perjuangan ‘Sultan Agung’, ‘Pangeran Diponegoro’, ‘Sisingamangaraja’, dan ‘Peristiwa Rengasdengklok’. Para peserta didik yang terlibat terbagi ke dalam 52 penampil seni musik, 150 penampil seni vokal, 153 penampil seni tari, 51 penampil seni rupa, dan 147 penampil seni teater.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif