Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Satryo Soemantri Brodjonegoro. Foto:  Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo
Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Satryo Soemantri Brodjonegoro. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo

Guru Besar Mengurus Administrasi Membuat Minim Publikasi

Pendidikan Guru Besar
Kautsar Widya Prabowo • 16 Oktober 2019 08:08
Jakarta: Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Satryo Soemantri Brodjonegoro menyebut urusan administrasi yang merupakan tanggung jawab guru besar menjadi salah satu penyebab rendahnya produktivitas publikasi. Seharusnya guru besar memang fokus pada penelitian dan mengajar.
 
"Selain beban mengajar kan banyak sekali, (urusan) administrasinya. Mengisi form ini macam-macam. Kalau di luar negeri enggak dilakukan, mereka orientsi di labaratorium aja, mengajar sama di laboratorium penelitian," ujar Satryo di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat, Selasa, 15 Oktober 2019.
 
Sehingga, ia menilai pada dasarnya publikasi internasional Indonesia bisa meningkat jika diiringi dengan ekosistem yang mendukung. Terlebih ia merasa sulitnya mencari data hingga minimnya pendanaan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pendanaan (minim) sehingga membuat orang malas meneliti. Jadi belum ada ekosistem yang mendukung peneliti untuk meneliti dengan baik, aturan yang berbelit, izin-izin tidak mudah," tuturnya.
 
Di sisi lain guru besar yang tidak memenuhi target minimal satu publikasi internasional atau tiga publikasi nasional dalam kurun waktu tiga tahun terancam akan ditahan tunjangan kehormatan profesornya. Aturan yang merujuk pada Permenristekdikti nomor 20 tahun 2017 itu mulai diimplementasikan tahun depan.
 
Dalam Permenristekdikti 20 tahun 2017 disebutkan tunjangan kehormatan profesor akan diberikan jika memiliki paling sedikit satu jurnal bereputasi internasional atau tiga publikasi nasional dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Jika tak memenuhi persyaratan, maka tunjangan tersebut akan dihentikan sementara.
 
Revisi Permenristekdikti terkait tunjangan kehormatan profesor dikaitkan pertama kali diterapkan akhir 2019. Jumlah dosen Indonesia saat ini tercatat 283.653 orang, 5.463 di antaranya profesor, 58.986 lektor, dan 32.419 merupakan lektor kepala.
 
Pemotongan tunjangan kehormatan untuk profesor cukup siginifikan, yakni sebanyak tiga kali gaji pokok, termasuk tunjangan profesi dosen atau sertifikasi dosen.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif