Kepala BNN, Heru Winarko.  Foto:  ITB/Dok. Humas
Kepala BNN, Heru Winarko. Foto: ITB/Dok. Humas

BNN Ingatkan Mahasiswa Bahaya Narkoba Jenis NPS

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 11 Oktober 2019 19:21
Jakarta: Penyebaran narkoba kini dinilai semakin mengkhawatirkan. Pasalnya, narkoba yang dulu hanya dikenal berasal dari tanaman. Kini tren narkoba sudah mulai bergeser dengan kemunculan jenis baru hasil sintesis atau dikenal sebagai New Psychoactive Substances (NPS).
 
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen. Pol. Drs. Heru Winarko, S.H menyampaikan, bahwa ancaman narkoba jenis NPS ini sangat berbahaya. Berdasarkan data, terdapat 803 jenis narkoba jenis NPS di seluruh.
 
"Dari jumlah tersebut, 74 jenis di antaranya beredar di Indonesia. Beberapa jenis NPS tersebut kini telah masuk ke dalam Permenkes No. 20 Tahun 2018," kataHeru dalam kuliah umum bertema “Menyelamatkan Generasi Muda dan Merawat Negeri dari Ancaman Kejahatan Narkoba" dalam siaran pers, Jumat, 11 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Heru juga menjelaskan, peta peyebaran narkoba beserta metode penyebarannya. Informasi ini diharapkan bisa mengatasi ketidaktahuan mahasiswa terhadap paparan penyebaran narkoba.
 
Hal ini agar mahasiswa sebagai generasi muda bisa ikut andil dalam menghentikan proses penyebaran narkoba tersebut. “Ancaman narkotika itu nyata, maka kita harus selalu waspada dan mengetahui bagaimana langkah-langkah dalam mengantisipasinya,” terangnya.
 
Dia menerangkan, saat ini penyebaran narkoba semakin sulit didedeteksi akibat perkembangan teknologi informasi yang bisa membuka celah bagi pelaku kejahatan untuk memproduksi atau mengedarkan narkoba dengan lebih mudah. Media yang selama ini dipakai adalah surface web market, atau melalui media sosial.
 
Selain itu juga melaluideep web market dilakukan melalui jaringan internet tersembunyi yang sangat sulit dilacak, dan yang baru-baru ini dipakai melalui crypto cyber yang sangat sulit dilacak karena pembayarannya melalui bitcoin.
 
Tidak kalah penting, ia memaparkan, angka prevalansi penyalahgunaan narkoba di Indonesia berada pada kisaran angka 1.7-2.2% atau sekitar 3-5 juta jiwa. “Angka ini merupakan ambang batas kritis yang harus dikendalikan dan ditekan supaya tidak terjadi peningkatan kasus penyalahgunaan narkoba,” tambahnya.
 
Dalam pemberantasan narkoba, BNN menggunakan strategi defence active yaitu dengan cara pencegahan dan pemberatasan peredaran gelap bagi para sindikat narkoba, kemudian pencegahan penyalahgunaan bagi masyarakat publik, serta pemberantasan penyalahgunaan dan pemulihan/rehabilitasi bagi para pecandu.
 
Heru juga mengingatkan kembali mengenai tridarma perguruan tinggi dan kaitannya dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Poin pertama dari tridarma perguruan tinggi yaitu, pendidikan dan pengajaran karena perguruan tinggi meupakan garda terdepan dalam menyelamatkan bangsa dari berbagai ancaman termasuk narkoba.
 
Kemudian perguruan tinggi juga memiliki peran penelitian dan pengembangan yaitu mencari cara atau metode yang tepat dalam P4GN meninjau berbagai aspek seperti hukum, kesehatan, sosiologi dan psikologi. Dan peran terakhir dari perguruan tinggi adalah pengabdian masyarakat hal ini bisa di wujudkan dengan cara berkontribusi nyata, termasuk pemberdayaan masyarakat anti narkoba.
 
Tak lupa, dalam kuliah umum tersebut ia juga mengajak seluruh cendekiawan dari berbagai latar belakang untuk bersama memerangi kasus penyalahgunaan narkoba dari berbagai aspek.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif