Indonesia Butuh Desain Besar Pendidikan Vokasi
Diskusi tentang pendidikan vokasi/Medcom.id/Damar Iradat
Jakarta:Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Anton J. Supit mengatakan Indonesia belum memiliki desain besar pendidikan vokasi dan industri. Absennya desain besar itu membuat lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih sulit mendapat pekerjaan.

"Kita ini tidak punya desain besar secara nasional," kata Supit dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 10 November 2018.


Anton menjelaskan Indonesia seharusnya bisa meniru Jerman dalam perbaikan sistem pendidikan vokasi. Jerman merupakan salah satu negara yang memiliki sistem vokasi terbaik di dunia.

Baca: Indonesia-Jerman Kerja Sama Program Vokasi

Selain memiliki desain besar, sistem vokasi di Jerman juga memiliki lembaga federal yang khusus mengurus hal tersebut. Mereka juga melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengusaha, dan serikat buruh dalam menetapkan kebijakan sistem pendidikan vokasi.

"Mereka yang memutuskan pelaksana daerah masing-masing," ucap dia.

Indonesia tidak bisa meniru sepenuhnya sistem itu. Namun, setidaknya, semua pemangku kepentingan harus meluruskan kembali definisi dan arah pendidikan vokasi.

Pemerintah dan pihak industri juga perlu mengampanyekan kelebihan pendidikan vokasi dibandingkan pendidikan formal lainnya. Upaya itu tentu saja membutuhkan waktu panjang.

"Tentu perlu waktu untuk mulai kampanyekan, dan tentunya persiapan. Kalau kita memilih sistem, lantas apa peranan industri dan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)," ucap dia.

Baca: Dinas Pendidikan Miskin Program Vokasi

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka menurut daerah sebesar 5,34% pada Agustus 2018, turun dibandingkan 2017 sebesar 5,50% pada bulan yang sama. Tingkat pengangguran tertinggi berdasarkan pendidikan masih berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka tertinggi menurut pendidikan, berasal dari jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) sebesar 11,24 persen. Tingkat pengangguran terendah sebesar 2,43 persen terdapat pada penduduk berpendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah.



(OJE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id