Rektor Univesitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, Neil Semuel Rupidara. Dok Pribadi
Rektor Univesitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, Neil Semuel Rupidara. Dok Pribadi

Kebijakan Kampus Merdeka Diharapkan Mewujudkan Otonomi Perguruan Tinggi

Pendidikan beasiswa osc Kampus Merdeka
Muhammad Syahrul Ramadhan • 27 Juli 2020 16:01
Jakarta: Rektor Univesitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, Neil Semuel Rupidara menilai program Kampus Merdeka bisa menjadi menjadi pintu masuk untuk perguruan tinggi memiliki otoritas mengelola lembaga. Konsep ini membuat perguruan tinggi mempunyai kemerdekaan untuk mengembangkan gagasan, model pengelolaan, dan uji coba sekaligus mengevaluasi.
 
"Ekspektasi ketika kebijakan Kampus Merdeka belajar keluar, Merdeka Belajar keluar, itu pikiran kami adalah pintu masuk ke depan pemerintah akan lebih melonggarkan itu, dan kami berharap inisiatif-inisiatif di tingkat perguruan tinggi lebih dibuka," terang Neil kepada Medcom.id, Senin, 27 Juli 2020.
 
Namun, lanjutnya, kebijakan Kampus Merdeka yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim justru tidak memberikan otonomi untuk kampus. Ia melihat masih ada masalah dalam kebijakan tersebut, yakni kecenderungan untuk menyeragamkan. Akibatnya, perguruan tinggi tidak bisa mengoptimalkan potensi-potensi yang dimiliki.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena harus seragam, banyak ide, gagasan, bisa tenggelam, kami tidak berharap demikian. Mestinya Pak Menteri punya harapan lebih besar," ujarnya.
 
Baca:Insinyur Diharapkan Lebih Produktif di Tengah Pandemi Covid-19
 
Ia menjelaskan, dalam Kampus Merdeka ada empat pokok kebijakan. Pertama, kemudahan pembukaan program studi baru, sejauh memenuhi kriteria tertentu. Kedua, reakreditasi program studi dan institusi secara otomatis bilamana memenuhi syarat yang ditetapkan. Ketiga, kemudahan peningkatan status badan hukum bagi PTN. Keempat, kemerdekaan pilihan belajar bagi mahasiswa di luar batas program studi dan universitasnya.
 
"Memerhatikan penjelasan lisan maupun tulisan dalam sosialisasi Kebijakan Kampus Merdeka, tampaknya masih sulit mengasosiasikan Kebijakan Kampus Merdeka sebagai upaya yang menukik maksudnya dalam membentuk otonomi kampus sebagai ciri pendidikan tinggi Indonesia," tuturnya.
 
Neil mengatakan, kebijakan kemerdekaan pilihan belajar sempat menimbulkan harapan sebagai dasar bagian dari otonomi akademik. Namun, jika dicermati, kebijakan itu ternyata menunjukkan bagaimana pemerintah justru masuk dan mengatur pola belajar di universitas.
 
"Dari program Kampus Merdeka itu, dengan mengarahkan agar 60 SKS konten belajar pengalaman belajar di luar prodi dan di luar universitas. Tidak kah itu suatu bentuk campur tangan dalam hal konten tambahan materi belajar non prodi dan proses, misalnya belajar di industri?” ungkapnya.
 
Meski begitu, kata Neil, tetap ada peluang bagi kampus memiliki otonomi. Pasalnya, Nadiem mendorong agar perguruan tinggi memiliki inisiatif-inisiatif dalam pengelolaan kelembagaannya.
 
"Pak Nadiem mengatakan ini baru awal, lima produk regulasi yang dikeluarkan dan tidak hanya regulasi tingkat nasional, tetapi Pak Menteri mendorong di perguruan tinggi masing-masing juga perlu mengembangkan inisiatif sehingga ada harapan baik disana," kata Neil.
 
Neil menegaskan otonomi untuk kampus adalah sebuah keharusan. Tanpa itu, kata dia, akan segala gagasan baik bakal terkekang dan kontraproduktif. "Pikiran saya, dan banyak orang yang berkecimpung di dunia pendidikan," tegasnya.
 
Ia mengusulkan dalam kebijakan Kampus Merdeka mengatur agar kampus memiliki otonomi, khususnya secara kelembagaan. Ia mengatakan, kampus tidak harus dipaksa dengan regulasi yang ada. Pola ini bisa dicoba berdasarkan akreditasi atau pemeringkatan perguruan tinggi.
 
"Mendorong daya saing pendidikan tinggi Indonesia, atau bisa pakai peringkat nasional. Perguruan tinggi dalam 100 besar nasional diberikan otonomi itu. Sambil juga menerapkan turun ke bawah 100 besar atau yang (akreditasi) B, untuk transformasi pendidikan Indonesia secara menyeluruh," tuturnya.
 

(AGA)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif