Ilustrasi. Foto: Media Indonesia
Ilustrasi. Foto: Media Indonesia

Asesmen 'Pengganti UN' Diklaim Mampu Redam Perundungan

Pendidikan Kekerasan di Sekolah
Ilham Pratama Putra • 14 Februari 2020 18:21
Jakarta: Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Pendidikan Karakter yang akan menjadi pengganti Ujian Nasional (UN) diklaim mampu menekan tingginya perundungan di sekola. Sebab dalam salah satu materi survek pendidikan karakter, disebut juga akan menilai karakter, norma, dan perilaku keseharian siswa di sekolah.
 
Semakin maraknya perundungan yang bahkan diwarnai tindak kekerasan di sekolah kian memprihatinkan belakangan ini. Sejumlah video yang mencuplik sejumlah perundungan pun marak beredar di media sosial.
 
"Survei dilakukan secara komprehensif, kita bisa mendeteksi secara dini anak yang memiliki karakter khas dengan kecenderungan agresif. Kemudian siswa mana yang kurang memahami nilai pancasila," kata Kepala Biro Kerja sama dan Hubungan Masyarakat (BK Humas), Kemendibud, Ade Erlangga Masdiana, di Jakarta, Jumat, 14 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pihaknya mengaku prihatin dan berempati terhadap beberapa korban kekerasan dan perundungan di sekolah. Ade menegaskan, Kemendikbud tidak ingin kejadian tersebut kembali terulang.
 
Dengan begitu, proses pendidikan, pembelajaran, dan interaksi di sekolah harus semakin diperkuat. Terutama interaksi dengan norma dan nilai yang harus dilakukan secara bersama-sama di dalam sekolah.
 
"InsyaAllah nanti (dengan Asesmen 'pengganti UN') bisa terdeteksi dan kita memang survei karakter itu, karakter semacam apa? yaitu karakter yang memiliki nilai-nilai Pancasila," ujar Ade.
 
Ade menyebutkan, nantinya survei karakter bakal diadakan setiap tahun. Untuk tingkat dasar, akan dimulai dari siswa kelas 4. Sedangkan SMP kelas 8 dan untuk SMA kelas 11.
 
Guru juga tak luput dari survei karakter ini. Sebab dalam sejumlah kasus juga ditemukan guru yang tak hanya menjadi korban, namun justru menjadi pelaku kekerasan di sekolah.
 
"Yang menyebabkan biasanya guru karakternya juga merasa tertekan. Makanya ada sebagian guru yang stres, lalu kemudian mereka melampiaskan stresnya dan emosi kepada hal yang tidak sesuai," pungkas Ade.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif