Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

ITS Gagas Roadmap Kemandirian Alkes dan Farmasi Pasca Pandemi

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi
Arga sumantri • 13 Mei 2020 12:34
Surabaya: Pusat Kajian Kebijakan Publik Bisnis dan Industri (PK2PBI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bekerjasama dengan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga Universitas Airlangga (Unair) menggelar diskusi grup secara virtual. Salah satu yang yakni dibahas soal peta jalan (roadmap) persiapan alat kesehatan dan farmasi setelah pandemi.
 
Kepala PK2PBI ITS, Arman Hakim Nasution nantinya mengatakan forum tersebut menghasilkan sejumlah hal yang disepakati untuk peta jalan kemandirian alkes dan farmasi nasional. Hasil peta jalan yang dibahas dalam forum tersebut akan diserahkan kepada Presiden Joko Widodo pada Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2020 mendatang.
 
"Harapannya, ada tindak lanjut dalam pembangunan dan penyusunan roadmap kemandirian alat kesehatan nasional dan farmasi yang lebih baik dan bermanfaat," kata Arman mengutip laman ITS, Rabu, 13 Mei 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Forum tersebut mengundang sejumlah pakar dan praktisi. Salah satunya, dokter bedah Cardiothoracic, Fathema Djan Rachmat, yang mengungkapkan, selama ini rumah sakit mengimpor segala kebutuhan dari negara lain, bahkan untuk hal-hal yang sepele. Padahal, kata Fathema, seharusnya setiap rumah sakit atau daerah memiliki setidaknya alat produksi dasar, seperti alat pembuatan infus.
 
Ia menyebut Indonesia sebenarnya memiliki bahan dasar pembuatan infus, tinggal penyediaan alat pembuatnya yang pada dasarnya sama seperti teknik pembuatan botol plastik yaitu blow, fill, dan fit. "Hal-hal sederhana itu dapat menekan harga biaya kesehatan. Nyatanya, cairan infus NaCl saja kita masih bergantung pada luar (negeri)," ujarnya.
 
CEO Paramedika Indonesia Healthcare Corporation itu juga menyebut, selama ini tidak ada penyebaran informasi mengenai apa-apa saja yang Indonesia punya dan bisa diproduksi sendiri, sehingga dapat dihitung sebagai pemborosan. Fathema mengungkapkan, situasi itu membuat Indonesia melakukan impor bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya dimiliki.
 
"Misalnya, untuk diagnostik serologi semua buatan luar negeri, padahal kita ada. Masalahnya, kita tidak memiliki sistem yang bisa menginformasikan bahwa kita sebenarnya mampu," ungkap Fathema.
 
Baca:Pakar ITB: Aturan Privasi Data di Indonesia Masih Kendur
 
Belajar dari segala kekurangan yang sudah terjadi, Fathema mengatakan bahwa Indonesia memerlukan ketahanan kesehatan nasional yang kokoh. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah memastikan ketersediaan, keterjangkauan, mutu, dan kesinambungan agar terciptanya iklim kesehatan yang baik.
 
Forum ini juga membahas soal potensi pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk ‘berdamai’ dengan covid-19. Bos perusahaan Widya Immersive Technology Azman Latif menyampaikan inovasi perusahaannya dalam membuat Widya Health Watch, jam tangan yang mampu mendeteksi suhu tubuh, detak jantung, dan oksigen darah. Dengan sistem penyimpanan catatan kesehatan, jam tangan ini mampu memantau kondisi kesehatan secara berlanjut.
 
"Pada jam ini juga terdapat dukungan telekonsultasi dan video call dokter Prosehat serta smart speaker bagi tunawicara," jelas Azman.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif