Menristekdikti, Mohamad Nasir melepas 45 mahasiswa Indonesia studi banding ke Tiongkok, Medcom.id/Citra Larasati
Menristekdikti, Mohamad Nasir melepas 45 mahasiswa Indonesia studi banding ke Tiongkok, Medcom.id/Citra Larasati

45 Penerima Bidikmisi dan Aktivis Kampus Diterbangkan ke Tiongkok

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 15 Juni 2019 07:07
Jakarta: Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, (Menristekdikti), Mohamad Nasir, melepas 45 orang delegasi mahasiswa Indonesia untuk studi banding ke Tiongkok selama tujuh hari, 15-21 Juni 2019.
 
Nasir mengatakan, ide untuk studi banding ini berawal dari pertemuannya dengan Dubes Tiongkok untuk Indonesia beberapa waktu lalu. "Waktu itu kami berdiskusi tentang perkembangan teknologi di Tiongkok yang sangat pesat," kata Nasir di sela-sela pelepasan Studi banding 45 mahasiswa Indonesia ke Tiongkok, di Hotel Ibis, Jakarta Barat, Jumat, 14 juni 2019.
 
Nasir mengaku kagum dengan kemajuan Tiongkok yang terbilang cepat dan pesat. Di hadapan mahasiswa Nasir menjelaskan, bahwa Tiongkok di tahun 1976 adalah negara yang terbelakang, namun sekarang menjelma menjadi negara yang disegani di dunia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"1976 ekonomi Tiongkok jauh lebih jelek, banyak orang miskin, sekarang berubah," terang Nasir.
 
Kondisi Tiongkok, terutama di Kota Guangzhou pun masih sangat kotor saat Nasir mengunjungi kota tersebut di 1994. Kondisinya berbalik 180 derajat ketika 2016 lalu ia kembali mengunjungi kota tersebut.
 
"Perubahannya sangat dahsyat," puji Muhadjir.
 
Baca:Cipayung Plus: Mahasiswa Tidak Akan Demo 22 Mei
 
Bahkan program Tiongkok yang dikenal dengan "Made in China 2025" terbukti sukses besar. Tiongkok berhasil memperbaiki ekonominya.
 
"Made in China 2025", sebuah rencana strategis Tiongkok yang dikeluarkan oleh Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang dan kabinetnya pada Mei 2015. Dengan rencana tersebut, Tiongkok berniat beralih dari "pabrik" dunia (memproduksi barang-barang murah dan berkualitas rendah karena gaji buruh yang rendah) ke produksi produk dan jasa bernilai tinggi.
 
Ditambah dengan perbaikan infrastruktur di negara tersebut, membuat Indeks Kompetitif Global Tiongkok membaik, bahkan kata Nasir, 10 kali lebih besar perkembangannya dari Jepang.
 
Kemajuan itulah yang mendorong Kemenristekdikti mengirim 45 mahasiswa Indonesia untuk studi banding ke negeri tirai bambu ini. Ke-45 mahasiswa terpilih ini terdiri dari 33 mahasiswa penerima Bidikmisi, serta 12 mahasiswa aktivis organisasi kemahasiswaan (Cipayung Plus) dari berbagai kampus di Indonesia.
 
Peserta diharapkan mendapatkan pengalaman dan wawasan internasional agar mampu bersanding dan bersaing dengan negara lain, dan membagikan pengalaman positifnya di lingkungan kampus.
 
Baca:24% Penerima Bidikmisi Dapat Kerja Sebelum Lulus
 
Lebih lanjut Nasir menjelaskan, program ini terselenggara atas undangan Pemerintah Tiongkok yang disampaikan melalui Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta kepada Kemenristekdikti dengan surat tertanggal 12 Februari 2019. Tujuannya ialah untuk memperkenalkan keindahan alam, budaya, dan teknologi Tiongkok kepada pemuda dan pemudi Indonesia.
 
Mahasiswa akan disambut oleh pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing dan diterima oleh Duta Besar Indonesia pada 18 Juni 2019. Selama di Tiongkok, delegasi mahasiswa dijadwalkan akan mengadakan pertemuan dan diskusi dengan sivitas akademika Peking University dan Hebei Normal University.
 
Tak hanya mengunjungi pusat-pusat aktivitas akademik, mahasiswa pun akan mengunjungi pusat-pusat teknologi dunia yang berada di Tiongkok, antara lain Huawei Technologies Co.Ltd., Hebei Museum, International Horticultural Exhibition 2019 Beijing, Great Wall Badaling, Forbidden City, dana Summer Palace.
 
"Saya berharap kalian sempat mengunjungi pabrik Huawei," ungkap Nasir.
 
Baca:Kelompok Cipayung Plus Apresiasi Tingginya Partisipasi Pemilu
 
Para delegasi juga akan dikenalkan pada pengelolaan pariwisata Tiongkok, dengan dijadwalkan melihat Panda sebagai hewan ikonik Tiongkok, serta mengunjungi beberapa lokasi pariwisata negara tersebut.
 
Seluruh biaya peserta kunjungan ditanggung oleh pihak pemerintah Tiongkok dan Indonesia. Pemerintah Tiongkok akan menanggung seluruh biaya selama acara tersebut yang mencakup biaya akomodasi, lokal transportasi, meals, termasuk tiket pesawat ekonomi Jakarta – Beijing pulang pergi.
 
"Peserta juga akan dibekali uang saku, jangan sampai ke sana tidak membawa uang," ujar mantan rektor terpilih Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.
 
Direktur Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Didin Wahidin didampingi staf Kemenristekdikti serta dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) akan turut mendampingi mahasiswa selama di Tiongkok.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif