Tabir surya hasil dari penelitian yang dilakukan Dr rer nat Fredy Kurniawan SSi MSi bersama timnya. Foto: ITS/Humas
Tabir surya hasil dari penelitian yang dilakukan Dr rer nat Fredy Kurniawan SSi MSi bersama timnya. Foto: ITS/Humas

Peneliti ITS 'Sulap' Sambiloto Jadi Tabir Surya

Pendidikan Riset dan Penelitian
Ilham Pratama Putra • 23 Januari 2020 20:18
Jakarta: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan riset dan inovasinya mengembangkan nilai tambah tanaman obat Sambiloto. Ekstrak tanaman tersebut disulap menjadi tabir surya atau bahan anti radiasi ultra violet.
 
Dosen sekaligus peneliti ITS, Fredy Kurniawan menyebut proses ektraksi tanaman obat Sambilato akan berujung pada produk kecantikan. Produk ini merupakan tabir surya dengan nilai Sun Protection Factor (SPF).
 
Proses penelitian Fredy bersama mahasiswanya sempat menemui beberapa kendala. Salah satunya, sampel yang berupa bahan alami, menyebabkan komponen (matriks) yang terkandung di dalam Sambiloto cukup kompleks.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fredy mengungkapkan, bahwa penelitiannya saat ini sedang dalam proses publikasi ilmiah. Sebab hingga saat ini belum ada kerja sama dengan pihak ketiga untuk bisa produksi massal.
 
"Saya berharap, penelitian ini nantinya dapat bermanfaat dan berdaya guna bagi masyarakat luas," kata Fredy dikutip dari laman resmi ITS, Kamis, 23 Januari 2020.
 
Dalam penelitian ini, Kepala Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Analitika Data ITS itu menggunakan metode maserasi. Untuk selanjutnya menggunakan metode analisis dalam menerapkan spektrofotometri Ultraviolet dan spektrofotometri fluoresens.
 
Sedangkan untuk metode karakterisasi hasil ekstraksi, digunakanlah metode spektrometri infra merah atau Spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (FTIR). Kromatografi Liquid Chromatography-Mass Spectrometer (LCMS/MS) sebagai langkah terakhir.
 
“Secara prinsip, pertama tanaman obat sambiloto diambil bagian daunnya kemudian dipreparasi dan dilakukan proses maserasi selama beberapa waktu. Kemudian dilakukan karakterisasi dan analisis terhadap hasil ekstraksi tanaman obat sambiloto, terakhir adalah modifikasi dan aplikasi ekstrak tanaman tersebut sebagai UV Protector,” kata Fredy.
 
Penelitian Fredy sendiri dimulai karena dia menyadari Indonesia sebagai negara tropis tentu kaya dengan keanekaragaman jenis tanaman. Di antara tanaman itu tentu ada yang bisa dijadikan obat.
 
Menurut Fredy, potensi tanaman obat telah banyak dikembangkan di Indonesia, khususnya di bidang farmasi. Penelitian ini adalah salah satu pengembangan dan pemanfaatan tanaman obat.
 
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis dari aset alami Indonesia. Nantinya, tanaman ini akan menjadi salah satu jenis tanaman obat yang menjadi prioritas utama untuk dikembangkan di Indonesia.
 
Selain itu, tanaman ini mempunyai senyawa aktif yang dikenal dengan nama “King Bitter”. Senyawa tersebut merupakan senyawa bioaktif primer Andrographolide, yang merupakan golongan senyawa terpenoid khususnya Diterpene lakton.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif